Sabtu, 25 April 2026.
Penasihat Dalang Publishing, Lian Gouw, Direktur Gemah Rahardjo beserta para narasumber Prof. Dr. Wigati Yektiningtyas dan suaminya, Dr. James Modouw tiba di Wisma Indonesia, kediaman Konsul Jenderal Republik Indonesia di San Francisco.
Kehadiran kami di sana atas undangan sebagai pembicara dalam acara pemaparan pengenalan daerah dan budaya Papua. Kami disambut oleh Konsul Jenderal, Bapak Yohpy Ichsan Wardana beserta istri dan Konsul Bidang Informasi dan Sosial Budaya, Ibu Monica Sonia Maria Purba dan sekertaris KonJen, Ibu Riena Sarojo.
Acara kami mulai dengan kata sambutan dan perkenalan. Dr. James Modouw selaku pengamat ahli daerah Papua mulai memberikan gambaran umum mengenai keadaan suku, lingkungan, dan kesejahteraan umum masyarakat Papua secara keseluruhan. Selanjutnya, Prof.Dr. Wigati Yektiningtyas menambahkan pembahasan tersebut dengan pemaparan lebih mendalam. Beliau menjelaskan hasil penelitian yang telah dia lakukan selama 36 tahun mengenai kebudayaan masyarakat yang bermukim di tepian Danau Sentani. Cakupan penelitian ini meliputi cerita rakyat masyarakat Sentani, seni lukis pada batu dan kulit kayu, seni ukir kayu, serta seni tari. Beliau menutup pemaparannya dengan sebuah pernyataan pribadi mengenai “pentingnya melestarikan dan menyebarluaskan cerita rakyat sebagai sumber pengetahuan, pendidikan, sejarah, nilai-nilai luhur, asal-usul, dan jati diri, melalui berbagai cara dan pendekatan khusus yang merangsang daya cipta.”
Para undangan memanfaatkan kesempatan mengajukan pertanyaan seusai pemaparan. Tiga pertanyaan mengalir ditujukan kepada Prof.Dr. Wigati.
Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan;
1. Mark Chandler, Direktur Perdagangan & Niaga Internasional, Kantor Wali Kota San Francisco Bidang Pengembangan Ekonomi dan Tenaga Kerja.
T. “Saya sangat takjub mengetahui bahwa Papua memiliki 273 bahasa daerah. Mengapa kaum muda saat ini tidak lagi mampu menuturkan bahasa tersebut, dan apa yang dapat dilakukan untuk membantu mereka mempelajarinya?”
J. Dilihat dari letak daerah, Papua memiliki hutan hujan tropis yang lebat, jajaran pegunungan tinggi seperti Pegunungan Jayawijaya, lembah-lembah yang dalam, serta jalur kendaraan yang terbatas. Oleh karena itu, tidaklah mudah bagi kelompok-kelompok masyarakat untuk saling berbicara. Ketika kelompok-kelompok tersebut jarang berhubungan, bahasa-bahasa mereka secara alami semakin terberai dan menjadi sepenuhnya berbeda seiring berjalannya waktu.
Kaum muda tidak menuturkan bahasa daerah karena banyak di antara mereka yang berasal dari luar Papua. Mereka tidak mampu menuturkan bahasa-bahasa Papua, sementara penduduk setempat juga tidak menuturkan bahasa mereka; akibatnya, pada akhirnya semua orang menggunakan Bahasa Indonesia sebagai sarana bicara mereka. Kaum muda juga tidak memiliki sosok panutan berbahasa, karena orangtua mereka tidak menuturkan bahasa daerah di lingkungan rumah. Secara kejiwaan, kaum muda kemudian menganggap bahasa daerah mereka tidak memiliki wibawa yang setara dengan Bahasa Indonesia. Membantu kaum muda mempelajari bahasa daerah mereka merupakan hal yang sangat penting. Upaya ini dapat kita lakukan melalui jalur pendidikan sekolah maupun luar sekolah.
Secara resmi, bahasa daerah dapat digunakan di sekolah-sekolah, yakni dengan menyatupadukan ke dalam tahap pembelajaran mata pelajaran tertentu — seperti pelajaran Bahasa Indonesia, seni dan budaya, dan sebagainya. Secara tidak resmi, bahasa daerah dapat diajarkan di sanggar-sanggar seni dan pusat-pusat sastra; selain itu, para orangtua hendaknya menuturkan bahasa tersebut dengan penuh kebanggaan di rumah serta mengajarkannya kepada anak-anak mereka.
2. Dr. Liliane Koziol, Northern California Fulbright Visiting Scholar Enrichment Program
T. “Saya tertarik dengan pemaparan Anda mengenai kekayaan cerita rakyat dan bahasa masyarakat Sentani. Apa yang sedang dilakukan untuk melestarikan cerita rakyat tersebut?”
J. Melestarikan cerita rakyat (terutama yang bersifat tidak tertulis) berarti juga melestarikan bahasa setempat, karena cerita rakyat sebagian besar dituturkan atau dinyanyikan dalam bahasa setempat itu. Apa yang telah kami lakukan di Sentani adalah mengajarkan bahasa-bahasa setempat di sekolah-sekolah dan desa-desa, melalui kerja sama dengan para kepala suku dan kepala desa. Kami mengajak kaum muda untuk menggunakan bahasa-bahasa ini di jaringan sarana umum, seperti Facebook, TikTok, dan sebagainya. YouTube juga dimanfaatkan untuk berbagi video lagu-lagu daerah, tarian, seni ukir, dan seni lukis. Selain itu, kami menggunakan cara cetak mutakhir untuk membuat ulang bentuk dan corak ukiran, lukisan kulit kayu, dan lain-lain, pada kaus, kantong kain, dan berbagai perlengkapan lainnya.
3. Dr. Sandra Sardjono, Pendiri Tracing Patterns Foundation (Berkeley, CA)
T. “Apa makna dari warna-warna yang diabadikan dalam lukisan kulit kayu dan seni ukir tersebut? Siapa yang diperbolehkan melukis di atas kulit kayu? Siapa yang berhak menyimpan lukisan dan ukiran tersebut?”
J. Ada tiga warna yang digunakan dalam lukisan kulit kayu: putih melambangkan kemakmuran (berkah), hitam melambangkan kejahatan, dan merah melambangkan kerja keras. Di masa lampau, hanya kaum pria yang diperbolehkan melukis. Para pria harus melukis di tempat yang tersembunyi, dan tidak seorang pun diizinkan melihat mereka saat melukis. Lukisan kulit kayu dianggap sakral, berkaitan dengan kepercayaan setempat bahwa lukisan kulit kayu merupakan busana para dewa. Kini, siapa pun dapat melukis. Setiap suku memiliki corak dan bentuknya sendiri. Suatu suku tidak diperbolehkan mengumpulkan lukisan kulit kayu dari suku lain.
Sentani memiliki tingkatan kepangkatan dan nilai derajat dalam lingkungan masyarakat : ondofolo (tingkatan kedudukan tinggi) dan yobhu yoholom (tingkatan kedudukan rendah). Keduanya juga memiliki corak dan bentuk yang berbeda. Lukisan kulit kayu milik orang-orang dengan pangkat kedudukan tinggi tidak boleh disimpan oleh orang-orang dengan kedudukan dan pangkat yang lebih rendah.
Setelah acara pemaparan selesai Prof. Dr. Wigati dan Dr. James Meadow mengajak para hadirin, termasuk Bapak dan Ibu Konjen yang mengenakan seragam batik Papua bersama-sama menarikan tarian khas Papua sebelum kami semua yang hadir menyantap hidangan makan siang prasmanan khas Indonesia yang disediakan oleh Konsulat.
Konsulat Jenderal Republik Indonesia menyediakan hidangan makan siang prasmanan yang nikmat berselera. Terima kasih kami ucapkan atas segala persiapan yang sangat baik dan sambutan hangat. Kami meninggalkan Wisma Indonesia sekitar pukul 14.30 dengan kesan mendalam bagi kami dan para undangan yang hadir.
*****