Tekan tombol untuk:

Rubini dan Ibu Ratu

Berti Nurul Khajati lulusan IKIP Muhammadiyah Purworejo. Dia lulus pascasarjana tahun 2021 di UHAMKA Jakarta. Kini, dia tinggal di Bekasi, Jawa Barat, dan mengajar di SD Negeri Setia Asih 06, di Kecamatan Tarumajaya. Dia dan kawan-kawan telah menerbitkan buku cerita anak berjudul Aku Anak Laut (Rose Book, 2019) dan Mencari Harta Karun (Rumah Imaji, 2022). Dia juga menulis karya ilmiah yang telah diterbitkan oleh beberapa jurnal ilmiah. Menulis cerita pendek tanpa kata serapan adalah tantangan baru baginya.

Berti dapat dihubungi melalui surel: bertikhajati2@gmail.com

 

 

Rubini dan Ibu Ratu

 

“Dini hari, tanggal 6 Maret 1942, Purworejo diserang oleh satuan Isoroku Yamamoto. Pasukan Jepang ini bergerak dari arah Yogyakarta. Purworejo yang masih dikuasai oleh Belanda dengan tentara KNIL-nya sempat melancarkan perlawanan sengit di wilayah tenggara Kota Purworejo. Namun, pasukan Jepang mampu memadamkan perlawanan itu sehingga pada pukul sebelas siang, Kota Purworejo sudah dikuasai.” Tuso mendengarkan siaran radio sambil berjongkok di depan tungku. Sebilah arit berkilat-kilat terselip di dinding berkilau memantulkan sinar api tungku ke wajah Tuso.

Siaran radio masih berlangsung. Gawat! Jepang sudah masuk Purworejo, bisik hatinya. Dia melirik ke arah istrinya. Dada Tuso berdegup kencang mengingat perintah Pak Lurah untuk memimpin perlawanan jika tentara Jepang menyerang.

Rubini tengah mondar-mandir menyiapkan nasi liwet dan daun singkong berkuah santan. Dia menaruh piring dan mangkuk di atas meja kayu sambil bersenandung lirih. Padi di sawah mereka sudah menguning. Beberapa hari lagi mereka panen.

Dor! Dor! Dor! Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Tuso dan Rubini saling pandang.

Dengan sigap, Tuso meraih arit yang terselip di dinding dan menarik tangan Rubini. “Cepat keluar! Bersembunyilah di sawah! Merunduk di antara batang-batang padi!”

“Kang Tuso mau ke mana?” Rubini berteriak gemetar.

“Jangan khawatirkan aku! Cepat sembunyi sebelum mereka datang!”

Rubini menyibak batang-batang padi yang dipenuhi oleh bulir-bulir yang membulat. Padi-padi sudah saatnya dipanen. Namun tiba-tiba Desa Clapar, desa terpencil di atas bukit dekat Purworejo itu, menjadi medan pertempuran antara tentara Jepang dan Belanda.

Rubini tetap bertahan di antara batang-batang padi yang tumbuh subur dengan bulir-bulir gabahnya yang tajam menusuk kulit. Rasa gatal bercampur perih membuat Rubini tidak betah, tetapi untuk keluar dari tempat persembunyiannya pun dia tidak punya keberanian.

Matahari sore sudah waktunya terbenam. Warna merah lembayung menyemburat di ufuk barat, seakan melengkapi ceceran darah dari tubuh-tubuh yang bergelimpangan di sepanjang jalan yang membelah desa. Dengan kepala terunduk, Rubini mengintip dari kerimbunan batang padi. Letusan bedil masih terdengar sesekali, sebelum akhirnya sunyi menguasai malam yang gelap-gulita karena tidak seorang pun menyalakan pelita. Dengan tubuh penuh goresan luka, Rubini mengangkat kakinya yang lama terbenam di lumpur sawah dengan susah-payah. Sebagian lumpur mengering di betisnya.

Dari tempat persembunyiannya, Rubini melihat tentara Jepang menggelandang beberapa pemuda desa dengan tangan terikat ke belakang dan meninggalkan tubuh-tubuh meregang nyawa itu begitu saja. Pembantaian oleh tentara Jepang, dengan cara menembaki para lelaki desa yang tidak memiliki senjata, telah usai. Dengan cepat, mereka berderap mengikuti perintah pemimpinnya ke luar dari Clapar.

Para perempuan mulai berani keluar dari persembunyiannya dan suasana semakin gaduh. Terhuyung Rubini menghampiri tubuh-tubuh yang tergeletak bersimbah darah. Tubuh-tubuh penuh luka masih bergelimpangan. Erangan demi erangan semakin menghilang seiring suara mengorok yang menandakan lepasnya nyawa dari badan. Desah napas yang memburu berganti dengan cekaman kesunyian yang menakutkan. Desa Clapar telah berubah menjadi desa mati. Para lelaki yang semula menghidupkan desa dan mengolah sawah telah dibantai oleh serangan tiba-tiba. Mereka hanya membawa senjata berupa arit yang biasanya digunakan sebagai alat untuk memanen padi.

Perempuan-perempuan Desa Clapar tidak sempat lagi menangisi kematian suami dan anak lelaki mereka. Mereka harus segera menggali kuburan agar tubuh-tubuh tidak bernyawa itu dapat dimakamkan malam itu juga. Suara jangkrik berselingan dengan suara linggis dan pacul yang berbenturan dengan tanah dan bebatuan merindingkan bulu roma Rubini.

Di pinggir jalan setapak yang ditumbuhi rerumputan, tubuh Tuso tergeletak bersimbah darah. Bau anyirnya menusuk hidung Rubini. Dia bersimpuh sambil memegang dadanya yang tiba-tiba sesak. Orang yang dicintainya meninggal dengan cara mengenaskan. Sama seperti perempuan-perempuan lain, Rubini menguburkan Tuso dengan pakaian yang melekat di badan. Tidak ada waktu lagi untuk mencari kain kafan. Tanah yang digali pun tidak terlalu dalam. Keterbatasan tenaga perempuan membuat kuburan-kuburan itu lebih mirip kuburan kucing daripada kuburan manusia.

Usai menguburkan jasad suaminya, Rubini bergegas membungkus pakaian seadanya. Para perempuan memutuskan untuk segera keluar dari Desa Clapar agar terhindar dari serangan tentara esok hari. Mereka meninggalkan Desa Clapar dengan berbekal buntalan sekadarnya, menyebar ke mana saja.

Rubini menuju Bapangsari dengan harapan bertemu sepupunya yang tinggal di desa atas perbukitan Menoreh itu. Gonggongan anjing di kejauhan dan rasa dingin yang menggigit kulit membuat hati Rubini berdesir. Bulan sabit di langit tidak cukup menerangi langkahnya.

Jalan menuju Bapangsari lengang ketika Rubini keluar dari Desa Clapar. Dia berjalan semalaman. Tiba-tiba, hari sudah berganti. Terik matahari yang mulai tajam bersama debu yang ditebarkan angin menyengat kulit Rubini. Perjalanan yang ditempuhnya sudah cukup jauh dari Clapar. Kakinya pegal dan perutnya lapar. Dengan gontai, dia melangkah menuju pohon asam untuk melepaskan lelahnya. Ada selokan kecil berair bening tidak jauh dari pohon. Rubini segera ke sana, menciduk airnya dengan tangan, lalu meneguknya. Segarnya air terasa membasahi kerongkongannya. Rubini kembali ke pohon asam dan bersandar pada batangnya. Angin semilir yang bertiup membuatnya mengantuk.

“He, kamu! Di mana laki-lakimu sembunyi?”

Rubini tersentak membuka matanya. Di depannya berdiri tiga tentara Jepang bersenjatakan bedil. Dia menolehkan kepala ke segala arah, namun tidak seorang pun tampak kecuali ketiga tentara yang berwajah garang. Terhuyung Rubini berusaha bangkit.

“Saya tidak punya laki-laki, Tuan. Saya janda.”

“Janda, he? Kau orang punya laki-laki melawan kami!” Wajah tentara itu terlihat kejam.

Matanya melotot dan urat-urat lehernya tampak seperti kawat-kawat yang menjulur tidak beraturan.

“Tidak, Tuan. Suami saya mati karena sakit.”

“He! Kamu orang bohong, ya? Itu apa kaubawa?” Bayonet yang tergantung di pinggangnya diangkat dan diarahkan pada buntalan yang tergeletak di tanah.

“Ini buntalan baju, Tuan. Saya mengunjungi sepupu.”

“Bohong!” Tentara itu mengangkat bedilnya. Diacungkannya senjata itu tepat di dada Rubini.

Rubini terkejut; keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya. Dengan tangan gemetar, dia mencari pegangan pada batang pohon tempatnya istirahat.

Seorang tentara yang sudah agak tua berbicara dalam bahasa mereka. Tampaknya teman-temannya dapat menerima omongan tentara tua itu. Mereka melanjutkan perjalanannya dengan langkah cepat.

Dengan lutut yang masih lemas, Rubini meraih buntalan pakaiannya dan melanjutkan perjalanan ke Bapangsari.

***

Segera setelah berhasil menguasai Purworejo, Jepang membangun benteng pertahanannya. Benteng besar itu harus dikerjakan siang malam karena akan digunakan sebagai tempat untuk mengintai keberadaan KNIL.

Dari Desa Bapangsari, yang letaknya tinggi di atas perbukitan Menoreh di antara Kota Yogyakarta dan Purworejo, garis pantai dari Jatimalang sampai Congot memang jelas terlihat. Namun di sekitar bukit itu, ternyata masih banyak rumah-rumah penduduk yang mengganggu jalannya pembangunan benteng Jepang. Jepang memerintahkan Pak Lurah untuk merobohkan rumah-rumah itu.

***

Hari beranjak sore ketika Rubini tiba di Bapangsari. Langkahnya sudah terseok-seok. Tumitnya yang pecah-pecah dengan beberapa luka lecet di jari-jarinya membuat Rubini meringis menahan pedih. Dia berhenti di dekat batu besar. Di sekelilingnya ada orang-orang yang bekerja. Mereka menggunakan pacul dan linggis untuk menggali tanah yang keras berbatu. Bentuk galian itu memanjang dari ujung selatan ke utara. Rubini melihat bekas rumah-rumah yang dibongkar. Di ujung jalan Desa Bapangsari yang dulu sering dilalui ketika berkunjung ke rumah Karmin, sepupunya, dia melihat gundukan tanah bekas galian. Rumah sepupunya telah dibongkar dan digali menjadi parit juga.

Wajah Rubini pucat-pasi. Harapan untuk bertemu sepupunya hilang sudah. Hatinya ngeri dengan kenyataan di depan matanya. Sepupunya sudah kehilangan rumah. Rubini memandangi kesibukan yang terjadi di depan matanya. Dengan perasaan bingung, dia menolehkan kepalanya ke kanan-kiri. Ada di mana Karmin sekarang, batin Rubini.

Tiba-tiba, seorang pekerja yang memanggul pacul melewati Rubini, berhenti dalam perjalanannya. Dia membalikkan badan dan, setelah menatapnya dengan cermat, datang menghampiri Rubini.

Mulut Rubini terbuka dan berteriak, “Karmin!” Hati Rubini membuncah. Matanya bersinar.
Karmin dengan cepat meletakkan jari telunjuk di bibirnya. “Kamu harus segera pergi dari sini!” Matanya yang cekung memancarkan kekhawatiran. Dia memegang bahu Rubini dan mendorongnya.

“Tapi …,” Rubini berusaha bertahan. Dipegangnya lengan Karmin. Dia berkeras untuk tinggal.

Karmin melanjutkan ucapannya dengan berbisik, “Bapangsari sudah dikuasai Jepang.

Kami laki-laki di desa ini harus bekerja menggali parit. Kamu harus pergi dari sini! Kalau ketahuan Jepang, kamu bisa celaka. Cepat pergi!” Karmin berbisik.

“Tolonglah saya, Kang.” Rubini memohon dengan mata berkaca-kaca. “Saya sekarang sebatang kara. Suamiku sudah dibunuh Jepang. Kamulah satu-satunya pelindungku.” Suaranya berbisik parau. Hatinya hancur melihat rumah sepupunya yang sudah dibongkar.

Tiba-tiba, dari balik timbunan tanah bekas galian, muncul seorang laki-laki bertubuh pendek. Dengan topi yang menutupi tengkuk, dia meneriakkan perintah kepada para pekerja dengan logat yang terdengar aneh.

Seketika Karmin merunduk dan mendorong Rubini dengan paksa. “Cepatlah pergi! Jika tertangkap, kamu akan dijadikan jugun ianfu.”

“Jugun ianfu? Apa itu?” Sergah Rubini.

“Melayani tentara Jepang seperti kamu melayani suamimu,” balas Karmin cepat. Hatinya kecut mengingat beberapa perempuan desa yang sudah menjadi jugun ianfu. Dia tidak rela Rubini menjadi bagian dari mereka. Ditatapnya wajah Rubini yang tiba-tiba memerah, lalu memucat.

Rubini pasrah saja ketika Karmin mengajaknya menjauh dari tempat itu.

Karmin menarik Rubini yang sudah kepayahan berjalan. Mereka menyusuri pematang sawah supaya terlihat seperti petani dan menjauh dari Bapangsari ke arah barat. Kira-kira dua jam berjalan, mereka menemukan sebuah dangau di tengah sawah. Setelah yakin keadaan aman, Karmin mengajak Rubini berhenti. Hatinya iba melihat keadaan Rubini. Namun jika membiarkannya tetap di Bapangsari, akan sangat berbahaya.

“Kamu akan kuantarkan ke Karangbolong. Ingat Yu Srini? Dia adalah bibi kita.” Karmin berbicara dengan sungguh-sungguh. Dia membenamkan tangannya ke dalam lumpur sawah. Lalu dengan sekali sentakan, dia menariknya. Seekor belut gemuk tertangkap olehnya. Karmin membuang isi perut dan mencuci belut itu dengan air sawah.

Sinar matahari sudah meredup ketika Rubini menyantap belut bakar.

“Saya menurut nasihatmu saja, Kang. Ngeri hatiku mendengar pekerjaan jugun ianfu.” Wajah Rubini bergidik membayangkan pekerjaan yang tidak pernah terpikirkan olehnya.

Dalam kegelapan yang membungkus dangau, Karmin melindungi sepupunya. Dia berjaga semalaman agar Rubini dapat beristirahat. Dilihatnya Rubini yang tertidur pulas dan mendengkur halus dengan penuh iba.

Ketika bangun keesokan harinya, Rubini merasa lebih kuat. Wajahnya lebih segar meskipun masih ada sisa-sisa kelelahan. Pegal di kakinya jauh berkurang. Mereka berjalan menyusuri kebun-kebun penduduk sehingga dapat memetik kacang panjang dan menggali sedikit ubi untuk mengisi perut. Ketika malam tiba, mereka menumpang di dangau petani di tengah ladang.

Dua hari satu malam mereka berjalan, tibalah di rumah Yu Srini. Di depan rumah kayu berdinding gedek, Karmin mengetuk pintu. “Kulonuwun ⸺ Permisi.”

Monggo ⸺ Silakan masuk.” Perempuan berambut putih yang digelung sederhana membukakan pintu. Wajahnya sejenak menegang,; lalu dia berteriak, “Karmin?” Senyumnya mengembang di bibir tuanya yang keriput.

Karmin menyalami bibinya. Jantungnya berdebar. Hatinya bahagia melihat bibinya sehat. Tebersit rasa khawatir kalau bibinya berkeberatan menampung Rubini di rumahnya.

Yu Srini mengalihkan pandangannya kepada Rubini. “Lho! Ini Rubini, kan? Aku masih ingat. Apa yang terjadi?” Yu Srini tidak dapat menahan hasratnya untuk bertanya.

Rubini tidak menjawab. Dia malah menggenggam tangan Yu Srini erat-erat lalu menubruk tubuh renta itu dan menangis di pundaknya.

Yu Srini mengelus punggung Rubini. “Kita bicara di dalam, ya.” Dia menggandeng tangan Rubini dan menyuruhnya duduk di bangku kayu.

Karmin mengikuti di belakang mereka. Sambil menikmati air putih dan singkong rebus, Karmin bercerita. “Rumahku di Bapangsari telah dihancurkan. Tempatnya digunakan untuk membangun benteng Jepang. Aku mau menitipkan Rubini di sini. Aku tidak mampu melindunginya dari Jepang karena aku pun harus bekerja untuk mereka sebagai romusha ⸺ pekerja paksa yang tidak dibayar.”

Yu Srini terhenyak. “Terus kamu tinggal di mana?”

Karmin menukas, “Aku bisa tinggal di mana saja. Tapi Rubini tidak. Dia butuh perlindungan. Suaminya dibunuh oleh Jepang sehingga tidak mungkin baginya untuk kembali ke Clapar.”

Yu Srini menyimak cerita Karmin dengan wajah sendu. Matanya memerah. Dia mengusap air matanya dengan ujung kebaya.

Sementara, Rubini hanya mampu menunduk terisak-isak.

***

Yu Srini tinggal sendiri di rumah peninggalan suaminya. Perempuan berusia enam puluh tahun itu berjualan makanan di depan rumahnya. “Terkadang orang yang mau pergi ke pantai belum sempat sarapan,” kata Yu Srini sambil menata dagangannya di atas pelupuh. Meja pendek yang terbuat dari bambu itu, berlubang di bagian tengah agak ke belakang agar dia dapat duduk sambil melayani pembeli. Beberapa lelaki datang dan duduk di dingklik di depan pelupuh. Mereka memesan nasi dan lauk-pauk sambil duduk di kursi bambu pendek itu.

Rubini segera menyesuaikan diri dengan kehidupan Yu Srini. Dia membantu memasak nasi dan lauk-pauk di dapur dan membawanya keluar.

Dari tempat Yu Srini berjualan, Rubini dapat melihat pantai berbatu karang di kejauhan. Ketika pembeli sudah sepi, dia sering mengamati kegiatan di pantai itu. Dilihatnya lelaki-lelaki Karangbolong merayapi tangga-tangga bambu yang dipasang di ketinggian batu karang. Tangga-tangga itu dibuat untuk memanen sarang burung walet yang dipercayai sebagai obat beraneka penyakit.

Burung-burung yang membuat sarang dengan air liurnya itu menjadi tumpuan penduduk Karangbolong. Pemanen harus bergelantungan di tangga-tangga bambu. Gemuruh ombak memecah karang disertai cipratan air dan tiupan angin kencang menjadi tantangan berat. Selain itu, bertarung dengan sambaran-sambaran burung walet yang berusaha mempertahankan sarangnya juga sering membuat perhatian mereka terpecah. Jika sudah begitu keadaannya, kemungkinan untuk jatuh menjadi semakin besar. Barang yang dipanen dengan taruhan nyawa itu harganya sangat mahal. Pembelinya, kebanyakan para pedagang keturunan Cina yang berasal dari luar kota, seperti Purworejo dan Yogyakarta. Mereka akan meramu sarang burung walet menjadi obat untuk menyembuhkan dan memulihkan tenaga orang yang sakit parah dan memperbanyak air susu perempuan yang baru melahirkan.

Dengan menjual hasil panennya, laki-laki Karangbolong mencukupi kehidupan keluarganya.

***

Penanggalan di dinding telah menunjukkan bulan Agustus 1945. Wulan Kesanga, bulan kesembilan dalam penanggalan Jawa, sudah tiba. Saatnya untuk panen sarang burung walet.

Para lelaki sudah siap dengan peralatannya. Tali-tali berukuran besar digulung dan disampirkan di atas bahu. Tali-tali itu akan digunakan untuk menggantung keranjang-keranjang bambu tempat menampung hasil panen. Mereka dibantu oleh istri-istri mereka. Perempuan-perempuan itu melangkahkan kaki dan mengangkut keranjang-keranjang itu di atas kepala mereka.

Rubini merasakan detak jantungnya berpacu melihat laki-laki Karangbolong merambati tangga bambu yang digunakan untuk memanen sarang burung walet. Merayap di kecuraman tebing karang tempat burung walet bersarang, mereka tampak seperti semut yang merangkak-rangkak di dinding raksasa. Oh, alangkah kecilnya nyawa mereka, batin Rubini sambil memandang ombak yang datang silih berganti. Gulungan ombak itu mengingatkan Rubini pada Ibu Ratu, panggilan untuk Nyi Roro Kidul, yang dipercaya oleh penduduk Karangbolong sebagai pelindung mereka. Mereka melaksanakan upacara sedekah laut sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Ibu Ratu setiap musim panen sarang burung walet tiba.

Matahari sore menyisakan warna jingga. Bayang-bayang para pemanjat memanjang di hamparan pasir pantai. Satu per satu mereka menuruni tangga-tangga bambu, lalu berjalan beriringan menuju desa. Panen sarang burung walet hari itu usai sudah. Bersama perempuan-perempuan yang lain, Rubini berlari kecil membawa ceret dan cangkir menyambut para lelaki yang pulang dengan selamat.

***

Yu Srini menyetel radio tua peninggalan suaminya. “Jepang menyerah tanpa syarat kepada Amerika setelah Kota Hiroshima dan Nagasaki dibom atom. Kesempatan ini digunakan oleh para pemuda untuk mewujudkan cita-cita perjuangannya. Hari ini, 17 Agustus 1945, Sukarno – Hatta telah menyatakan kemerdekaan Indonesia dan bendera merah putih berkibar di Jakarta.” Siaran radio berkumandang ke segala penjuru. Terdengar sorak-sorai orang berkumpul di pantai.

Rubini menyusul. Dia ikut larut dalam kegembiraan orang ramai. Sudah tiga tahun Rubini menumpang di rumah Yu Srini. Selain merayakan kemerdekaan Republik Indonesia, hari ini Rubini juga akan turut melaksanakan sedekah laut yang ketiga kalinya. Dia sibuk membantu bibinya menyiapkan bunga melati, mawar, dan kantil untuk sesaji. Tangannya sudah cekatan menata bunga-bunga itu di atas nampan beralaskan kain putih. Terbayang olehnya tokoh Adipati Surti, utusan Pangeran Kartasura, dalam dongeng Karangbolong. Dia memetik sarang burung walet yang akan digunakan untuk menyembuhkan permaisuri Kesultanan Kartasura yang sedang sakit keras. Tiba-tiba, wajah Tuso terbayang di pelupuk mata Rubini. Aku masih mencintaimu, Kang.

Malam itu bulan purnama. Rubini bersiap dengan pakaiannya yang terbaik, berdandan agar kelihatan pantas saat menghadap Ibu Ratu. Dibawanya seperangkat sesaji yang berisi bunga-bunga. Rubini bersandar pada bongkahan batu karang di tepi pantai. Matanya menatap ke laut lepas. Perjalanan hidupnya penuh liku. Dia kehilangan suami karena kekejaman Jepang. Usahanya mencari perlindungan ke Bapangsari tidak berhasil. Akhirnya bibinya yang sudah renta bersedia menampungnya di Karangbolong. Inilah yang terbaik bagi Rubini. Tekadnya sudah bulat. Angin pantai yang bertiup ke tengah laut mendorong Rubini melangkah semakin jauh ke tengah laut. Tidak ada yang dapat menghalanginya. Rubini, perempuan sederhana dari Desa Clapar, memasrahkan dirinya menjadi pengabdi Ibu Ratu.

Ketika air laut mencapai pahanya, Rubini melepaskan sesaji. Dilihatnya kuntum-kuntum bunga itu mengambang beberapa saat sampai hilang terbawa ombak ke tengah laut. Dia menarik napas dalam-dalam untuk memenuhi paru-parunya dengan udara berbau garam itu.

 

*****

Choose Site Version
English   Indonesian