Berita Kami

Arsip

Dalang Publishing berkunjung ke Oregon

 

 

Tulisan oleh Retna Ariastuti

Ibu Lian menghadiri Historical Novel Society Conference di Portland, Oregon, pada tanggal 22 -25 Juni 2017. Di sela-sela jadwal Ibu Lian yang padat di konferensi, kami menyempatkan diri untuk mampir di beberapa toko buku dan perpustakaan di Portland. Ini adalah pertama kalinya bagi Dalang untuk memasarkan terbitannya di Portland. Kami mengunjungi The Multnomah Public Library, Broadway Books, Mother Foucault’s Bookshop, dan Wallace Books. Terbitan Dalang telah terdapat di daftar judul dari Powell’s City of Books: toko buku swadaya terbesar di dunia. Kami hanya mampir di sana untuk memperkenalkan diri secara langsung.

Kami tidak sabar untuk melihat buku-buku Dalang segera dipajang di Oregon.

Peluncuran Buku Dasamuka oleh Junaedi Setiyono

Foto oleh Reza Widamahendra dan Cathy Cakebread

 

Buku ke sembilan Dalang Publishing yang berjudul Dasamuka tanggal 9 Juni lalu telah resmi kami luncurkan. Dengan kehormatan khusus atas hadirnya Bapak Konjen Ardi Hermawan beserta Ibu Yuli dan keluarga. Beberapa orang pejabat KJRI seperti Bapak Hanggiro Setiabudi, dan Bapak F Bernard Loesi, tampak juga diantara para hadirin sore itu.

Tak ketinggalan Sylvia Tiwon, professor bidang South and Southeast Asian Studies dari Universitas UC Berkeley; Virginia Shih, pustakawati SOEA Library dari UC Berkeley; George Anwar, guru besar Dept. of Engineering yang juga dari UC Berkeley turut menyimak dan mengikuti acara peluncuran itu hingga selesai.

Dalam acara itu juga turut diperkenalkan Retna Ariastuti sebagai anggauta baru Dalang Publishing. Tuti bertanggung jawab mengurus kolom Cerita Anda di situs kami dan menerjemahkan tulisan Berita Kita yang ditulis oleh Gemah Rahardjo dalam bahasa Inggris.

Selamatan Peluncuran Buku Dasamuka

 

Hari Sabtu tanggal 20 Mei 2017 lalu adalah hari yang penuh berkat dan rahmat bagi Dalang Publishing. Setelah satu tahun persiapan, sebuah naskah penulis Indonesia telah rampung dan menjadi sebuah karya sastra terjemahan yang layak kami persembahkan. Untuk itu kami pun menggelar acara selamatan atas ujud rasa syukur kami.

Acara yang diselenggarakan di Multi Purpose Room, Highlands Recreation Center di San Mateo, California itu dihadiri oleh kurang lebih 30 orang tamu undangan. Kami merasa terhormat dan mendapat dukungan dengan hadirnya Bapak Hanggiro Setiabudi, Bapak F Bernard Loesi, dan Ibu Riena Sarjono dari Konsulat Jendral Republik Indonesia, San Francisco. Kehadiran mereka mewakili pemerintah yang mendukung penerbitan karya sastra Indonesia di Amerika. Acara juga dihadiri oleh diantaranya Sylvia Tiwon, professor bidang South and Southeast Asian Studies dari University of California, Berkeley, Virginia Shih, pustakawati SOEA Library UC Berkeley, dan Cynthia Rider, pustakawati dari Main Burlingame Public Library.

Bapak Hanggiro Setiabudi yang mewakili Bapak Ardi Hermawan, Konsul Jendral Republik Indonesia di San Francisco, memberikan kata sambutannya, dilanjutkan dengan penyerahan buku karya asli berbahasa Indonesia dan buku karya terjemahan bahasa Inggris oleh Ibu Lian Gouw.

Dasamuka adalah karya Junaedi Setiyono seorang pengajar Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Muhammadiyah, di Purworejo. Karya itu diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh Maya Denisa Saputra.

Dasamuka telah berhasil mendapat pujian dari beberapa orang terpelajar di Indonesia maupun di Amerika. Pujian ini dapat dibaca melalui sampul belakang bukunya dan di halaman buku situs kami.

Pada acara selamatan, kami juga sekaligus memperkenalkan Retna Ariastuti, yang akrab disapa Tuti, sebagai anggota baru Dalang Publishing. Beliau didaulat oleh Ibu Lian sebagai orang yang akan membantu mempertahankan kelangsungan Dalang Publishing dimasa yang akan datang.

 

Acara selamatan yang berlangsung sore itu berjalan dengan baik dan lancar. Setelah tumpeng disajikan kepada Pak Hanggiro Setiabudi para hadirin pun dipersilahkan menikmati nasi tumpeng dengan lauk rendang, telur dan udang balado, ayam goreng kuning, sambel goreng, kering tempe, dan urap-urap. Sebagai penutup kami sajikan kue lapis Surabaya dan kue Pepe. Penataan meja dengan hiasan bunga warna merah dan putih serasa begitu anggun. Alunan musik keroncong tak lupa memenuhi ruang pertemuan.

Acara ditutup dengan menampilkan powerpoint yang memperlihatkan tempat dan tokoh-tokoh yang muncul dalam cerita, dan pembacaan beberapa halaman buku Dasamuka oleh Ibu Lian.

 

Dari Foothill College ke Oregon

Foothill College – Entrepreneur Club’s Business Innovation Showcase Day.

Pada tanggal 10 Maret 2017 Foothill College, Mountain View, CA. menyelenggarakan acara Entrepreneur Club’s Business Innovation Showcase Day. Berkat beberapa mahasiswa Indonesia yang bersekolah disana, dan menjadi panitia acara, Dalang Publishing mendapat kehormatan mengisi salah satu meja pamer di acara itu. Tegishtha Andhika Iman Soewarno, Aleisha Fiona Nurfirman dan Cindy Tjuarsa telah bekerja keras menggelar acara itu dengan baik. Perhatian serta kepedulian mereka terhadap tujuan Dalang Publishing patut diacungi jempol. Tanpa kepedulian dan dukungan para pemuda dan pemudi penerus bangsa, usaha kami untuk mengangkat kehormatan bangsa melalui peningkatkan mutu sastra Indonesia akan sulit terlaksana.

 

Oleh: Retna Ariastuti.

2017 Association for Asian American Studies Conference –Portland, Oregon.

 

 

Dalang Publishing menghadiri AAAS Conference di Portland, Oregon yang berlangsung dari tanggal 13 – 15 April 2017 dengan inti pembahasan berjudul: “At the Crossroads of Care and Giving.” Dalang ikut serta dengan penampilan terbitan Dalang diantara 18 penerbit lain yang kebanyakan terdiri dari pernerbit universitas. Kita didampingi oleh Duke University Press dan Johns Hopkins University Press.

Kami beruntung diberikan tempat yang cukup menarik ini, karena pengunjung tetangga kami yang terkenal selalu mampir.

Para pengunjung tampak sangat tertarik pada terbitan Dalang. Mereka antara lain adalah peneliti dan pengajar di bidang kajian Asia Tenggara. Juga cukup banyak perpustakawan universitas yang menaruh perhatian pada terbitan Dalang.

Penjualan buku kita selama ajang tersebut cukup lumayan.

Keikut sertaan Dalang dalam konferensi ini juga karena adanya tampilan dari Asri Saraswati, mahasiswi Ph.D. dari State University of New York at Buffalo yang juga pengajar di Universitas Indonesia di Jakarta. Salah satu kajian dalam tampilannya adalah, “How does Indonesia’s colonial and post-colonial politics of race coincide with the Asian American experience?” Sayangnya hanya tiga orang Indonesia yaitu saya, Ibu Lian dan Asri, yang ikut serta dalam conference ini. Padahal dari kunjungan pada meja pameran kami dan pertanyaan-pertanyaan dan percakapan di acara tampilan Asri, ternyata ada banyak keingintahuan tentang Indonesia.

Selama di Oregon, Dalang juga menghadiri pertemuan kelompok pembaca buku di rumah Retna Ariastuti. Buku yang dibahas adalah The Red Bekisar terjemahan Nurhayat Indriyatno Mohamed dari Bekisar Merah, karya Ahmad Tohari,

Salam hangat bagi sahabat

 

Di awal tahun 2016, Dalang Publishing mendapat kabar sangat menggembirakan. Tanpa diduga, seorang wanita yang memiliki kecintaan dan kepedulian terhadap sastra dan bahasa Indonesia menyambangi Dalang. Beliau menyatakan kesediaannya membantu, berjuang, dan rela beriring jalan bersama kami. Nama wanita ini Retna Ariastuti, cukup disapa dengan panggilan akrab Tuti.

Tuti ini seorang yang senang membaca, terutama karya sastra Indonesia. Ketika pindah ke Amerika, kesenangan tersebut berlanjut dengan membaca buku sastra berbahasa Inggris dan mulai tertarik dengan terjemahan terutama terjemahan novel sastra Indonesia. Kesenangan baru terhadap karya terjemahan inilah yang membuka dan mengantarkan kesempatan untuk berkenalan dengan Dalang Publishing.

“Pada awalnya saya hanya berniat mencoba menjadi penerjemah untuk Dalang, tetapi ditolak oleh Ibu Lian karena saya tinggal dan menetap di Amerika” begitu ungkapnya .

Dalang memang memiliki sikap tegas dalam hal ini. Semua penerjemah buku terbitan Dalang Publishing harus berasal dan menetap di Indonesia. Niat ini berdasarkan keyakinan kami bahwa putra-putri Indonesia memiliki kemampuan besar dalam membangun dan mengangkat sastra Indonesia ke panggung dunia. Keyakinan yang akan menggugah, mengajak dan mendidik setiap manusia Indonesia untuk bangga sebagai bangsa Indonesia, dan kebanggaan ini tentunya akan tercermin dari kecintaan terhadap bahasa. Memahami dan mencintai bahasa tentunya akan mampu memberikan kekuatan dan nyawa dalam terjemahannya.

Pada akhirnya, niat serta usaha ini menjadikan kami lebih mencintai Indonesia melalui karya sastra dan orang-orang yang peduli terhadap penggunaan bahasa itu sendiri.

Wanita periang dan berkemauan keras ini lahir dan besar di Bukittinggi dari Ibu asal Bukittinggi dan Bapak Madura. Setelah tamat Teknik Industri ITB, Bandung beliau kemudian mengambil gelar PhD bidang Industrial Engineering di Oregon State University. Hingga sekarang Tuti tinggal dan bekerja di Corvallis, Oregon.

Harapan dan keinginan membangun bangsa serta mempertahankan Bahasa Indonesia yang giat dijalankan Dalang Publishing telah mendapat udara segar dengan masuknya Retna Ariastuti alias Tuti. Semoga harapan, doa dan pengabdian ini menjadikan kami semua lebih baik dimasa yang akan datang.

Lian Gouw: Penulis Novel Sejarah di San Mateo, California

https://www.voaindonesia.com/a/lian-gouw-penulis-novel-sejarah-di-san-mateo/3724535.html

Indonesia menjadi tamu kehormatan dalam ajang Frankfurt Book Fair yang berlangsung tanggal 14 – 18 Oktober 2015


Dalang Publishing menampilkan 8 judul buku terbitannya sebagai bukti keterlibatan dan dukungan terhadap kesusastraan Indonesia dalam ajang itu.

Buku-buku kami terpajang di ruangan khusus Indonesia dan juga terdapat di American Collective Stand.

Beberapa acara terpisah sehubungan dengan ajang itu:

Asri Saraswati, seorang mahasiswi Universitas Buffalo SUNY yang sedang mengambil gelar PhD dan juga adalah seorang pengajar di Universitas Indonesia, menjadi pembicara dalam “70 years of textual Production in Indonesia: Cultural Traditions informing Modern Productions,” sebuah sarasehan yang diadakan oleh Goethe University, Frankfurt, tanggal 12-13 Oktober 2015. Beliau menggunakan buku Only a Girl karya Lian Gouw sebagai bahan dalam sebuah pembahasan yang bertajuk, “Writing in Mobility: The Work of Indonesian Writers in America” bagian dari babak pembahasan “Indonesia in local and global trajectories.”

Manneke Budiman, Pengajar Sastra, Universitas Indonesia, menyebutkan kami dalam wawancara yang dilakukan oleh The Conversation sehubungan dengan penyelenggaraan Frankfurt Book Festival tersebut.

Oktober 4 – 10, 2015
Menikmati keindahan San Francisco Bay Area

Setelah satu minggu bekerja keras, tibalah saat berlibur.

Julie Anderson adalah seorang pemandu istimewa yang memimpin kami berwisata di daerah San Franciso. Dalam waktu singkat, kami belajar untuk berjalan kaki dengan gaya cepat melintasi jalanan SF yang naik turun. Kami dibawa keliling dan mendapat penjelasan mengenai beberapa tempat-tempat yang menjadi tujuan wisata di kota San Francisco seperti Civic Center, Union Square, China Town dan North Beach, Ghirardelli Square, dan Fisherman’s Wharf. Erni mendapati sebuah kata yang tertulis di pinggir jalan North Beach dekat toko buku City Lights Books. Paul Yamazaki, atasan dari bagian pembelian pasokan toko, meyakinkan dukungan beliau pada Dalang dengan menguraikan sejarah toko buku istimewa ini seraya menunjukkan setiap bagian tokonya.

Kami melintasi Jembatan Golden Gate dengan berkendaraan dan makan siang di Marin Headlands, kemudian menuju Golden Gate Park, di mana kami mampir di De Young museum dan Conservatory of Flowers.

Kami mengunjungi Alcatrez, penjara terkenal, dengan menumpang kapal. Setelah itu kami berjalan di sepanjang pantai menuju Ferry Building untuk makan siang.

Jika mengunjungi California tak mungkin tidak menyusuri pantainya, mengunjungi menara mercusuar, dan melihat pohon redwood. Kami menghabiskan waktu sepanjang hari diantara pohon-pohon redwood di Big Basin National Park dan dalam perjalanan pulang melewati CoastHway 1 kami mampir di Pidgeon Point Lighthouse.

Karena John Steinbeck adalah salah satu penulis Amerika pujaan Anin dan Salinas tidak jauh dari rumah, kami mengunjungi Steinbeck Museum, makan siang di Old Steinbeck house, dan mengunjungi The Farm, sebuah pertanian organic untuk menikmati apa yang disebut “the fat of the land” oleh Steinbeck dalam karyanya “Of Mice and Men”. Yessenia Guzman dan Eric Mora, Tour and Marketing Coordinator dari Steinbeck Center, dengan ramah mengatur segala keperluan kami pada hari itu.

Tamara Donovan meluangkan waktu untuk berbagi pengetahuannya mengenai kampus Standford. Sejarah awal Standford dijelaskannya dengan sangat menarik sambil berjalan menuju ke masing-masing tempat terkenal di Stanford. Mulai dari The Oval, kami menuju ke White Plaza, Main Quad, Canter Center, Hoover Tower dan berakhir di sebuah taman dengan patung-patung ukiran khas Papua.

Mengunjungi Amerika pada tanggal 30 Oktober berarti harus siap untuk ikut mengukir buah labu sebagai acara persiapan pesta Halloween.

San Francisco Bay Area terkenal akan berbagai macam makanan. Bagi pendatang yang baru pertamakali berkunjung daerah ini yang harus dicoba adalah steamed artichokes, sarapan pancake, dan makan malam steak and roasted vegetables, sajian daging panggang lengkap dengan sayur-sayuran.

Anindita Thayf – penulis Daughters of Papua (Tanah Tabu):

“Membuat saya lebih mengenal Amerika; manusia dan budayanya—ternyata saya dan mereka tidaklah jauh berbeda.”

Steinbeck Museum: “Bertemu penulis Steinbeck–walaupun hanya berupa foto dan peninggalannya–adalah sesuatu yang paling berkesan bagi saya. Sebab Steinbeck adalah salah satu penulis kesukaan saya.”

Mendapat teman baru: “Saya dan Stef adalah satu pasangan penulis dan penerjemah yang “dijodohkan” oleh Dalang, dan untuk pertama kalinya bertemu muka sehari sebelum kami berangkat ke Amerika. Bersama-sama, kami melewati ngantuk dan lelah, panik dan lega, tekanan dan tuntutan selama seminggu acara berlangsung. Hasilnya, kami membawa pulang banyak kenangan, juga pelajaran, serta benih persahabatan baru.”

Mengunjungi China Town lalu ke City Lights Book Store. Toko buku ini berperan besar dalam sejarah toko buku San Francisco dan masih berdiri kokoh hingga sekarang.

Stefanny Irawan – penerjemah Daughters of Papua (Tanah Tabu):

Ini merupakan salah satu pengalaman tak terlupakan dalam hidup saya. Sungguh menyenangkan bertemu dengan orang-orang baru yang bersemangat membicarakan tentang sastra Indonesia yang saya terjemahkan. Kami terlibat dalam obrolan yang menarik dan berarti tidak hanya mengenai karya tersebut, namun juga tentang kebudayaan dan masyarakat Indonesia secara umum. Semua ini adalah pengalaman yang sangat berharga bagi saya selaku penerjemah dan orang Indonesia.

San Francisco: Sungguh menyenangkan! Andai saja kami punya lebih banyak waktu untuk menjelajahi SF Bay Area dengan lebih baik lagi.

Point Lobos: Pantai yang dipenuhi batu-batu kecil sejauh mata memandang? Menakjubkan.

Pumpkin at Lian’s house: Ini kali pertama saya mengukir labu dan saya membuat satu labu yang gembira!

Erni Aladjai – penulis Kei (Kei):

Pengalaman berharga adalah betapa orang Amerika membuka hati dan tangan mereka untuk mendengarkan kami berbicara tentang karya kami. Tempat yang paling mencerahkan adalah Penjara Alcatraz bagi saya, karena di sini saya merenungkan dan bersyukur atas segala yang saya miliki, kebebasan dan kemerdekaan saya.

Nurhayat Indriyatno Mohamed – penerjemah Kei (Kei):

Saya berangkat dengan harapan saya akan mampu menyumbang pada memperkenalkan sastra Indonesia. Ternyata, perjalanan ini membuat saya merasa bahwa selain dari ikut terlibat dalam membuka lebar pemahaman akan sastra Indonesia, dalam jati diri saya terbangun keyakinan dan kecerdasan yang memperkaya diri sendiri. Penghargaan Nobel untuk Ibu Lian!

Aku sangat menyukai perjalanan ke Jembatan Golden Gate dan Marin Headlands, karena hal yang paling istimewa dari San Francisco adalah Jembatan Golden Gate. Berjalan melintasi jembatan, dengan pemandangan kota secara penuh, adalah pengalaman luar biasa. Karena aku dulu kuliah di jurusan teknik, aku dapat menghargai pembangunan teknis dari jembatan ini, terutama ketika pertama kali dibangun.

Berjalan-jalan di hutan pohon redwood Big Basin adalah pengalaman yang luar biasa. Berada di antara pohon-pohon raksasa dan mengetahui bahwa mereka telah berdiri di sana selama berabad-abad, beberapa dari mereka sebelum kedatangan Columbus ke Dunia Baru, adalah pengalaman yang merendahkan hati dan menunjukkan betapa kecilnya kita dalam alam semesta.

Untuk keindahan pemandangan tidak banyak yang bisa banding dengan terbenamnya matahari di pantai kerikil di Point Lobos. Warna yang mempesona dan permainan cahaya di air dan batu membuat pandangan yang sangat indah yang hampir bisa disentuh.

28 September – 3 Oktober, 2015
Tatap muka penulis dan penerjemah Indonesia di San Francisco Bay Area, Amerika

Oleh Gemah Rahardjo

Untuk pertamakalinya sebuah penerbit karya sastra Indonesia di Amerika mendatangkan langsung penulis dan penerjemah buku terbitannya. Dengan persiapan matang selama hampir satu tahun, sederetan acara pembahasan, tanya jawab serta penandatanganan buku di berbagai toko buku, perpustakaan kota dan beberapa universitas terkemuka itu berlangsung sangat memuaskan. Puluhan orang yang selalu datang menghadiri setiap acara terlihat sangat tertarik dan terpesona dengan suguhan bedah buku dan pembacaan cerita yang dilakukan secara bergantian oleh sang penulis dan penerjemah.

Forest Books, San Francisco mendapat kehormatan sebagai tempat pertama penyelenggaraan acara. Toko buku yang terletak di dalam lingkungan Japan Town, San Francisco itu hanya menjual buku-buku pilihan tertentu yang bagi Gregory Wood, pemilik toko buku itu, adalah menjadi daya tarik dan kebanggaan menjual buku semacam itu. Menjadi kebanggan bagi kami Dalang Publishing ketika Gregory mengambil semua karya terjemahan Dalang sebagai pelengkap toko bukunya. Bapak Bernard F. Loesi, sebagai Konsul Hubungan Sosial dan Budaya dari KJRI San Francisco membuka acara pertemuan itu dengan kata sambutan.

Acara di Forest Books diumumkan oleh surat kabar San Francisco.

Professor Christian Jochim dari San Jose State University (SJSU) beserta perpustakaan Dr. Martin Luther King Jr. menjadi tempat giliran hari kedua. Beberapa pengajar SJSU hadir pada acara itu. Suatu kehormatan bagi kami ketika Prof. Danilyn Rutherford dari UC Santa Cruz hadir pula dalam acara itu. Prof. Danilyn Rutherford adalah salah satu yang menulis ulasan dan tanggapan di belakang sampul buku Daughters of Papua. Perpustakaan berlantai lima yang terletak di tengah kota San Jose ini memiliki banyak sekali buku-buku dari berbagai Negara di dunia, tetapi yang sangat menyedihkan bagi kami, ketika kami berkunjung kesana, Emily Chan, seorang pustakawati mengantarkan rombongan kami ke sebuah rak buku yang terletak di lantai tiga dimana disitu hanya terdapat dua buah buku mengenai Indonesia, dan itu hanyalah kamus bahasa Indonesia berukuran kecil. Emily mengatakan kepada kami bahwa mereka tidak pernah ditawarkan dan tidak tahu dimana harus mencari buku-buku karya sastra Indonesia.

Pucuk dicinta ulam tiba, kami semua bersorak gembira! Hari itu adalah hari yang bersejarah dan membanggakan bagi kami. Lian Gouw selaku pendiri Dalang Publishing langsung menawarkan semua karya kami dalam bentuk asli sebagai pengisi kelengkapan sastra dunia di perpustakaan itu. Seketika, delapan buku karya sastra Indonesia, terbitan beberapa penerbit Indonesia telah tersedia di rak lantai tiga perpustakaan tersebut.

Hari ketiga kami berada di Berkeley. Acara di UC Berkeley diprakarsai oleh Ibu Ninik Lunde, seorang pengajar Sastra dan Bahasa Indonesia di universitas tersebut. Professor Sylvia Tiwon, yang menulis ulasan dan tanggapan di belakang sampul buku Kei, dan juga Virginia Shih, pustakawati yang berwenang mengurusi kumpulan buku mengenai Asia Tenggara ada diantara hadirin bersama para pengajar lain. Hadir pula di acara itu para mahasiswa yang sebagian besar adalah mahasiswa Indonesia. Acara berlangsung sangat menarik dan akrab dikarenakan hadirin duduk mengelilingi meja bundar cukup besar dengan beberapa deretan bangku dibagian sisi kiri dan kanan. Layaknya sebuah pertemuan dalam rapat besar, acara berlangsung santai tetapi pembahasan buku menjadi lebih terpusat. Sambil menikmati hidangan lemper, kue pastel dan krupuk yang kami bawa sebagai camilan, suasana dalam ruangan menjadi terasa hangat meskipun diluar sana tersapu dinginnya hujan.

Selepas dari tempat ini kami harus segera meluncur memenuhi undangan makan siang sebuah kelompok pencinta bahasa Indonesia yang sebagian besar anggotanya adalah orang Amerika. Julie Anderson yang bertindak sebagai nyonya rumah dan ketua perkumpulan ini menyambut kami dengan sangat ramah bersama beberapa orang teman. Dengan hidangan makanan buatan mereka sendiri, siang itu kami benar-benar merasakan nikmat dan lezatnya masakan rumahan ala Amerika.

Sore menjelang malam kami pun bersiap untuk acara berikutnya di sebuah toko buku di dekat kampus Berkeley, University Press Books. Sebuah toko buku yang tidak terlalu besar tetapi sangat nyaman dan hangat. Pembahasan dan tanya jawab pun berlangsung lancar dan menyenangkan.

Jumat, 2 October adalah hari keempat. Kami menggelar acara di sebuah perpustakaan umum milik kota Foster City, Foster City Library. Cynthia Rider sebagai pustakawati yang selalu mendukung Dalang Publishing dalam segala kegiatannya telah berbaik hati memberikan waktu dan tempat untuk kami. Sebuah perpustakaan yang besar, nyaman dan tertata rapih serasa menjadi lebih dari sekedar tempat menikmati buku. Cynthia menyambut dengan hangat dan memperkenalkan kami kepada pengunjung yang banyak hadir sore itu. Keramahan dan kebaikan beliau menjadikan acara di tempat itu memiliki kesan tersendiri.

Jane Johnson menyambut kami di rumahnya untuk pemaparan pada perkumpulan pembacanya. Para hadirin menikmati percakapan lintas-budaya dan terlibat dalam pembahasan yang hidup mengenai kedua karya yang ditampilkan.

Wisma Indonesia, San Francisco adalah tempat yang sangat tepat untuk mengakhiri lawatan buku ini. Sebagai tanda dukungan besar dari pemerintah Indonesia terhadap perjuangan Dalang Publishing dalam memperkenalkan sastra Indonesia kepada pembaca di Amerika, Bapak Ardi Hermawan selaku Konsul Jendral Republik Indonesia mempersilahkan kami menutup acara di kediaman resmi beliau. Bapak Ardi Hermawan memberikan kata pembukaan dengan memberikan wejangan dan harapan kepada rombongan kami agar dimasa yang akan datang akan banyak acara-acara serupa seperti yang dilakukan oleh Dalang Publishing.

Anindita S. Thayf
Anindita S Thayf, penulis buku Daughters of Papua (dari karya asli, Tanah Tabu), dengan keberaniannya berhasil mengangkat cerita mengenai masyarakat Papua di lembah Baliem yang terkena dampak keterpurukan dan ketertindasan terutama kaum wanita dan anak-anak akibat keberadaan Freeport, sebuah perusahaan tambang besar yang berasal dari Amerika. “Kami masyarakat Indonesia, menciptakan keadaan dimana perempuan tunduk dan patuh terhadap laki-laki. Kita membiarkan keadaan itu mengatur kehidupan kita, mengedepankan kaum laki-laki, dan meminggirkan kaum perempuan; kita menerima keadaan itu sebagai suatu keadaan yang tak akan pernah berubah. Pada kenyataannya, semua itu dapat dirubah,” jelas Anin pada saat tanya jawab berlangsung.
Anin diwawancarai oleh Author Story – http://authorstoryinterviews.blogspot.com/2015/10/anindita-s-thayf-plight-of-papuan-women.html.

Erni Aladjai
Erni Aladjai, penulis buku Kei (dari karya asli, Kei). Penulis muda berbakat ini adalah salah satu penulis yang mengangkat peristiwa kerusuhan agama di kepulauan Kei. Yang menjadi sangat menarik, Erni melihat peristiwa ini bukan hanya sebagai kerusuhan agama semata tetapi dia ingin mengangkat hal penting yang sangat perlu diangkat dalam cerita, yaitu Ken Saa Faak sebuah upaya damai yang dilakukan masyarakat Kei. Ken Saa Faak adalah kebudayaan dan keyakinan setempat yang mampu meredam pertempuran, dalam hal ini perseteruan karena perbedaan agama tanpa adanya campurtangan pihak luar. “Selain itu dengan buku ini saya juga ingin memperkenalkan kepada semua orang, terutama pembaca di luar negri bahwa ada satu pulau kecil di Indonesia yang bernama Kei,” begitu kata Erni.

Stefanny Irawan
Stefanny Irawan selaku penerjemah Tanah Tabu / Daughters of Papua mampu mengikat keseluruhan cerita buku ini menjadi sebuah sajian yang sangat mengena dan menarik melalui terjemahan yang sangat baik, terlebih lagi Stefanny mampu memukau hadirin pada saat pembacaan buku. Dengan kalimat yang sangat jelas, lantang dan penuh perasaan, Stefanny sepertinya ingin menghidupkan cerita, menampilkannya tidak hanya melalui tulisan tetapi berusaha mewujudkannya dalam sebuah gambaran yang membawa hadirin merasakan dan memahami penderitaan serta persoalan masyarakat Papua yang sebenarnya, seperti apa yang ingin diceritakan dalam buku itu.
Stef diwawancarai oleh Author Story – http://authorstoryinterviews.blogspot.com/2015/10/steffany-irawan-on-being-translator-of.html.

Nurhayat Indriyatno Mohamed
Nurhayat Indriyatno Muhamad penerjemah untuk buku Kei / Kei adalah seorang wartawan suratkabar berbahasa Inggris di Jakarta yang terbiasa tampil dihadapan umum. Kefasihan Hayat dalam berbahasa Inggris membuat penyampaian pembahasan serta tanya jawab buku itu menjadi lebih hidup dan jelas. Selain itu, Hayat mampu membuat suasana akrab dengan candaan segar yang sering meluncur dari mulutnya.

Karya sastra Indonesia bagi sebagian besar orang Amerika sepertinya masih terdengar asing dan bukunya pun sangat sulit didapat. Kesimpulan yang kami peroleh dari setiap acara yang terselenggara telah menjadi jelas. Kekurang pahaman dunia barat terhadap kesusastraan Indonesia bukan karena karya sastra Indonesia tidak dapat mendunia, namun karena karya sastra Indonesia yang diterjemahkan secara baik dan benar sangat terbatas.

Selain membutuhkan sebuah karya yang baik, kerja keras, dan tentu saja usaha membuka hubungan seluas-luasnya terhadap segala hal yang terkait dengan dunia buku di Amerika, masih perlu ditambah banyak sekali dukungan perhatian dari pemerintah dan masyarakat Indonesia. Penghargaan dan kebanggaan terhadap karya sastra suatu bangsa hanya dapat terwujud dari dukungan dan keperdulian masyarakatnya.

Sebagai sebuah langkah awal kami telah berusaha membuka jalan yang memungkinkankita berjalan dengan bangga. Dengan menyelenggarakan acara A Taste of Indonesian Literature Dalang Publishing telah berusaha memperkenalkan karya sastra Indonesia di daerah San Francisco, California dengan menampilkan penulis-penulis muda berbakat bersama penerjemahnya. Kami bangga menerbitkan khusus karya penulis dan penerjemah yang semua berasal dari Indonesia, negara kita sendiri. Begitupun dengan perancang sampul buku kami.

Sabtu, 29 Agustus, 2015 – Perayaan Hari Indonesia di Union Square, San Francisco

Keselarasan dalam Perbedaan.

Kami menampilkan sebagian dari kesusasteraan Indonesia. Sebuah tampilan pernyataan Soempah Pemoeda terpampang cukup besar dalam tenda KJRI. Soempah Pemoeda adalah janji yang dinyatakan oleh kelompok pemuda yang cinta tanah air pada tanggal 28 Oktober, 1928 lalu tentang pernyataan pentingnya penggunaan bahasa, …… “Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”

Sehubungan dengan terpilihnya Indonesia sebagai tamu kehormatan dalam ajang Frankfurt Book Fair tahun ini. Kami juga dengan bangga menampilkan cetakan dalam ukuran besar tentang lambang Indonesian Frankfurt Book Fair yang memperlihatkan daftar dari 92 tokoh sastra Indonesia masa kini dan masa sebelumnya.

Kami menampilkan 83 judul buku dari 46 penulis Indonesia yang diterbitkan oleh 10 penerbit di Indonesia. 5 penerbit Amerika ikut andil dalam menerbitkan 15 judul buku dari 10 penulis Indonesia dengan 5 diantaranya adalah novel karya Pramoedya Ananta Toer, salah satu penulis terbaik Indonesia yang terkenal di dunia luar.

Tak luput pentingnya dari keseluruhan acara ini adalah para pengunjung tenda kami termasuk Konsul Jendral Republik Indonesia, yang terhormat Bapak Ardi Hermawan, pemimpin kelompok Indonesia, dan Olivia Sears, pendiri dari the Center for the Art of Translation, serta Julie Anderson yang adalah ketua Indonesian Language group di Berkeley.

Sabtu, 22 Agustus, 2015 – The Los Gatos Library Literary Fair

Sedang berkumpul dengan para penulis, penerbit, pustakawati dan pengajar, kami diberikan kesempatan untuk memperkenalkan kesusastraan Indonesia dan menampilkan judul-judul Dalang pada saat ini. Kebanggaan yang kami umumkan adalah bahwa tahun ini Indonesia akan menjadi tamu agung di International Frankfurt Bookfair and terbitan terbaru kami Cloves for Kolosia, terjemahan dari Aimuna dan Sobori, karya Hanna Rambe.

Sabtu, 9 Mei, 2015 – Selamatan dan Peluncuran untuk Love, Death and Revolution oleh Mochtar Lubis dan The Red Bekisar oleh Ahmad Tohari mengobarkan kembali semangat Revolusi Indonesia.

Penghargaan dan dukungan kepada kami dilakukan oleh Bapak Ardi Hermawan selaku Konsul Jendral Republik Indonesia untuk San Francisco dengan menghadiri acara selamatan dan peluncuran buku bersama keluarga dan seluruh jajaran KJRI.

Love, Death, and Revolution kami persembahkan untuk mengenang Bapak Anwar Rawy atas pengabdian dan perjuangannya dalam sejarah peliputan berita Indonesia. Beliau adalah tokoh masyarakat Indonesia yang disegani dan dihormati yang telah meninggal dunia tahun lalu. Kami telah melakukan serah terima buku tersebut dengan pihak keluarganya yang hadir malam itu.

Virginia Shih, pustakawati untuk Southeast Asia Collections di UC Berkeley, hadir antara para pendukung Dalang dan para tokoh masyarakat Indonesian di daerah SF.

Foto oleh Larry Stueck

Rabu, 18 Januari, 2015 – Memperkenalkan Kei dan Daughters of Papua di University Press Books di Berkeley

Acara yang penuh keakraban ini seperti mendapatkan berkat dengan hadirnya tamu dari tanah air, Yayah Khisbiyah, seorang pengajar dari Universitas Muhamadiyah, Surakarta. Beliau juga adalah Program Director dari Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations di Jakarta.

PELUNCURUAN TIGA BUKU BARU membawa kisah dari Maluku dan Papua

Book Launch for

Kei by Erni Aladjai
Daughters of Papua by Anindita S. Thayf
Aimuna and Sobori by Hanna Rambe

Saturday, December 6, 2014 at 3:00 p.m.

Consulate General of the Republic of Indonesia

1111 Columbus Street, San Francisco, California
(415) 474-9571 ext. 242

Wartawan Jaime Adams memberitakan kami di Jakarta Globe pada tanggal Nopember 2014

Wartawan Jaime Adams memberitakan kami di Jakarta Globe pada tanggal Nopember 2014.

Sabtu, 22 Nopember, 2014 – Passar Senggol

Di antara banyak penjual makanan, Dalang mempersembakan makanan bagi jiwa. KonJen San Francisco, Bapak Ardi Hermawan dan Ibu Yulina menyempatkan diri mengunjungi tempat kami. Dalang Publishing berbagi tempat dengan Persatuan Sahabat Indonesia.

Sabtu, 8 Nopember, 2014. Selamatan untuk Kei karya Erni Aladjai, Daughters of Papua /Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf dan Aimuna dan Sobori karya Hanna Rambe

Acara dihadiri oleh KonJen KJRI di San Francisco, Bapak Ardi Hermawan serta keluarga, Konsul Muda Ekonomi Ibu Karina Adisty Iqwan dan Konsul Penerangan, Sosial dan Budaya, Bapak F.Bernard Loesi. Antara hadirin lain adalah pengulas Kei dan Daughters of Papua, pustakawati, pengelola toko buku, pemimpin kelompok pembaca, tokoh-tokoh masyarakat Indonesia di SF Bay Area, dan “tenaga” Dalang.

Pameran buku Perpustakaan Los Gatos – Sabtu, 23 Agustus, 2014

Kami bergabung dengan lima perusahaan penerbit dan tigapuluh penulis buku dalam acara pameran buku yang digelar di lapangan Civic Center di depan perpustakaan Los Gatos.

Channel 5 KPIX Bay Sunday, bersama Frank Mallicoat – Minggu, 27 Juli

SF Examiner menyebut kami dalam tulisannya

Wartawan Leslie Katz memberitakan kami di San Francisco Examiner pada tanggal April 24, 2014.

Peluncuran buku baru Potions and Paper Cranes oleh Lan Fang

Sabtu, 12 Oktober, 2013. Selamatan untuk Potions and Paper Cranes

Only a Girl di Books Inc. Opera Plaza


 
Pada tanggal 15 Mei 2013 yang lalu buku Only a Girl ditampilkan di Books Inc. Opera Plaza, San Francisco. Pada kesempatan itu, Lian Gouw selaku penulis dan pendiri Dalang Publishing memulai paparan bukunya dengan tak lupa menyertakan penjelasan mengenai lembaga penerbitan yang didirikannya. Read More –>

Kunjungan Penulis Indonesia


 
Ahmad Fuadi, seorang wartawan dan penulis buku Negeri 5 Menara berkunjung ke KJRI San Francisco pada tanggal 12 Mei 2013 lalu. Beliau datang bersama istrinya, Yayi, yang kebetulan juga mendapat tugas ke Amerika. Kesempatannya berada di negeri Paman Sam ini dimanfaatkan oleh Fuadi sebagai ajang mewartakan karya tulisnya Negeri 5 Menara yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Angie Kilbane dengan judul The Land Of Five Towers. Read More –>

Memperkenalkan Indonesia lewat Only A Girl dan My Name is Mata Hari.


 
Dalang Publishing LLC terus melakukan lawatan memperkenalkan buku-buku terbitannya. Perjalanan panjang itu dimulai dengan memperkenalkan buku Only A Girl melalui perhelatan tanya jawab di perkumpulan-perkumpulan pembaca buku dan kunjungan ke perpustakaan di berbagai kota di daerah San Francisco Bay Area. Lawatan masih ditambah dengan kunjungan persahabatan ke toko-toko buku di berbagai kota, seperti: River Reader Book Store di Guerneville, Florey’s Books di Pacifica, Book Inc. di Burlingame, dan Copperfield’s Books di Napa dan Petaluma.

Yang menarik dari lawatan buku ini adalah bahwa kami tidak hanya menceritakan buku Only A Girl. Kami juga membawa serta buku terbitan terbaru dan pertama dari Dalang Publishing LLC karya penulis Indonesia, Remy Sylado My Name Is Mata Hari. Dengan berbekal kedua buku tersebut kami juga sekaligus ingin memperkenalkan kepada hadirin mengenai tanah air kita, Indonesia, terutama kesastraan dan penulisnya. Read More –>

Kunjungan kerja Lian Gouw ke Indonesia

Lian Gouw akan memulai kunjungan ke Indonesia pada tanggal 10 Oktober 2012 nanti. Kunjungan ini dilaksanakan atas prakarsa beliau sendiri guna menjembatani hubungan dan berbagi pengalaman, terutama untuk menyuarakan maksud dan tujuan yang kami tekadkan melalui Dalang Publishing mengenai kesadaran pentingnya pelestarian bahasa Indonesia. Sikap ini harus dimulai dengan pemahaman dan pengetahuan yang benar tentang bagaimana mengemas semua itu dari awal, dimana segalanya dimulai dari penggunaan bahasa yang baik dan benar.
Kami berharap dapat meluaskan hubungan dan menyapa langsung rekan dan sahabat-sahabat penulis, penerbit, serta kelompok pembaca dan pencinta buku yang ada di tanah air. Read More –>

Sastra Indonesia ikut tampil di Indonesian Day 2012


 
Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI), San Francisco, menampilkan buku-buku karya satra bermutu dari penulis-penulis handal tanah air di acara Indonesian Day yang berlangsung di Union Square pada tanggal 15 September kemarin.

Indonesian Day adalah acara yang sejatinya digelar untuk memperingati hari kemerdekaan kita yang jatuh pada tanggal 17 Agustus. Acara ini dilaksanakan setiap tahun dan menampilkan berbagai macam hiburan berupa kesenian daerah, dan sajian makanan khas Indonesia seperti lontong sayur, nasi rendang, nasi rames, sate, dan berbagai macam kue basah serta minuman dingin seperti es buah dan cendol. Diantaranya terselip juga tenda-tenda yang memamerkan hasil kerajinan khas dari berbagai daerah, serta daerah pariwisata di Indonesia. Tak ketinggalan ikut terpajang berbagai jenis batik yang dikenal sebagai pakaian milik masyarakat Indonesia. Read More –>

“Nasi Tumpeng” untuk acara selamatan My Name Is Mata Hari


 
Tanggal 1 September 2012 kemarin kami menghelat acara selamatan peluncuran buku My Name Is Mata Hari di San Mateo, California. Acara dihadiri oleh kurang lebih 20 orang, diantaranya: Konsulat Jendral Republik Indonesia, Bapak Asianto Sinambela beserta istri dan beberapa rekan KJRI, ketua Persatuan Senior Indonesia (PSI), Bapak Anwar Rawy beserta istri, dan beberapa undangan lainnya termasuk juga beberapa orang penting yang terlibat dan ikut andil langsung dalam keberhasilan peluncuran My Name Is Mata Hari, Sal Glynn (penyunting), Robert Kato (perancang sampul), Son Do (penata tulisan dan isi buku), David Fahrner (komputer), Gail Ford (pembaca). Read More –>

Dalang Publishing mengunjungi Congress Of Indonesian Diaspora


 
Tanggal 6 – 8 Juli 2012 kemarin, pemerintah Indonesia mengadakan suatu ajang pertemuan akbar yang baru pertamakali ini terselenggara. Congress Of Indonesian Diaspora yang diprakarsai oleh Duta Besar Indonesia, DR. Dino Pati Djalal berhasil mengumpulkan sekitar 2000 orang Indonesia yang tersebar diseluruh dunia untuk datang ke kota Los Angeles, Amerika Serikat.

Sejumlah perwakilan diaspora (sebutan terhadap orang Indonesia yang merantau ke luar negri) tampak hadir disana. Ada perwakilan diaspora Qatar, Arab Saudi, Korea, Jepang, Canada, Hawaii dan beberapa diaspora dari Amerika sendiri yang berangkat dari Texas, Washington, Arizona, San Francisco dan tentunya juga dari Los Angeles. Read More –>

Choose Site Version
English   Indonesian