Pada tahun 2005 Umar Thamrin menerima beasiswa Fulbright Grant dan Catherine and William L. Magistretti Graduate Fellowship untuk menyelesaikan pendidikan pascasarjana di Amerika Serikat. Sebelum kembali ke tanah air pada penghujung 2017, dia menerima tawaran dari University of Oregon untuk menjadi peneliti dan pengajar selama setahun.
Saat kembali ke tanah air, dia prihatin melihat rakyat yang tetap saja terpinggirkan dan sejarah yang begitu mudah terlupakan. Inilah yang mendorongnya untuk merenung, mengenang, dan menulis. Umar sekarang mengajar linguistik pada Universitas Islam Negeri Alauddin.
Umar Thamrin : umar2x.umar@gmail.com
***
Gagak Putih di Menara Tallo
Asap dupa mengepul dari tungku loyang emasku, membelit udara yang sudah sesak oleh bau anyir laut, semerbak yang telah kuhirup sejak tiang-tiang pertama Kerajaan Siang dipancangkan di pesisir Sulawesi Selatan ini. Sukmaku masih bergetar setiap kali teringat petir yang dulu menyambar loyang ini dengan murka. Pada hari itu aku terhempas dari tangga langit ketika mengawal bissu agung We Salenreng dan We Apanglangi. Para rohaniwan kerajaan langit itu turun menapakkan kaki di bumi yang gulita ini. Sampai hari ini, loyang ini masih setia menemaniku untuk merawat nyawa manusia-manusia fana yang sukmanya kian redup digenggam kegelapan.
Di hadapanku, Antonio de Paiva terbaring seperti seonggok daging tak berguna. Kulitnya yang seputih kerbau bulai tampak begitu rapuh bagi mataku yang telah menyaksikan matahari terbit dan tenggelam selama empat ratus tahun. Hidung kakatuanya kembang-kempis berusaha meraup sisa napas. Seharusnya aku iba melihatnya, tetapi batinku tahu saudagar Portugis ini adalah laknat yang dikirim laut untuk menghancurkan Siang. Tahun 1544 ini hanyalah satu tarikan napas pendek dalam ingatan panjangku. Namun aku merasakan ada sesuatu yang berbeda pada pusaran angin kali ini, seolah-olah waktu sedang bersiap untuk patah. Aku tahu mereka yang berkerumun di balik bayangan tiang istana melihatku dengan ngeri, membisikkan namaku sebagai penyihir yang menolak mati. Mereka benar, meski nalar mereka takkan sanggup memahami bahwa dalam nadiku mengalir darah putih Nasauleng, sang dewi langit, yang menjadikanku penjaga tanah ini jauh sebelum kakek buyut mereka lahir.
Aku melangkah maju, membiarkan jemariku yang berbau kemenyan menyentuh keningnya yang dingin. Karaeng Kodingareng, penguasa kerajaan Siang, berdiri di belakangku dengan mata penuh harapan. Dia tak sadar bahwa harapan yang sama telah kulihat di mata para raja-raja sebelumnya.
Orang-orang di sekitar kami berkerumun, memandang Antonio dengan ngeri dan penasaran. Mereka tidak membutuhkan kata-kata untuk bertanya. Aku bisa mendengar degup ketakutan di hati mereka, sama jelasnya dengan aku mendengar rencana-rencana licik yang mulai bersemi di hati Antonio yang sekarat.
“Sembuhkan dia,” perintah Karaeng Kodingareng.
Aku menghirup asap dari loyangku, merasakannya memenuhi paru-paruku yang telah bernapas selama empat ratus tahun. Menyembuhkannya adalah perkara sepele. Namun, saat aku mengembuskan asap ke mukanya, aku tahu bahwa aku tidak hanya memulihkan raga seorang saudagar; aku sedang memberi nyawa pada malapetaka yang akan mengubah sejarah kami selamanya.
Asap dupa menyembur dari mulutku, membelit wajah pucat Antonio seperti selimut abu. Dia tersedak, lalu matanya terbuka. Warna matanya mengingatkanku pada air laut yang dingin dan asing. Dia tidak bangkit dengan rasa syukur. Dia tegak dengan keangkuhan seekor ular sanca yang baru terbangun setelah menelan seekor kerbau. Hal pertama yang dia sasar adalah barisan para bissu di belakangku. Aku bisa merasakan gelombang rasa jijik memancar dari tatapannya saat melihat kulit mereka yang halus dan rambut yang tergerai. Baginya, kesucian kami hanyalah sebuah keganjilan yang memuakkan.
“Tinggallah,” ujar Karaeng Kodingareng, suaranya mengandung nada memohon yang membuat hatiku perih. “Istirahatlah di Siang.”
Antonio yang masih terlalu lemah untuk menggerakkan lidah mendongak. Dia tersenyum, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya yang tetap terpaku pada langit-langit istana, seolah-olah Karaeng Kodingareng, penguasaku yang agung, hanya seekor serangga di bawah kakinya. Dagunya selalu terangkat, menantang wibawa leluhur kami. Kata-katanya mengalir seperti madu beracun. Hanya dalam hitungan hari, dia mulai membisikkan nama Tuhannya, memutarbalikkan ketakutan Karaeng Kodingareng menjadi senjata.
Belum genap dua pekan matahari mengelupas sisa-sisa maut dari kulitnya, raga asing itu sudah tegak melintasi balai, menginjak lantai kayu dengan derap yang seolah-olah dialah yang memiliki setiap serat kayu di istana ini. Tatapannya terlalu angkuh untuk menunduk melihat lantai tempatnya berpijak. Antonio sepertinya telah lupa bahwa tanpa tiupan sukmaku ke dalam paru-parunya, jasadnya sudah lama membusuk di dalam tanah.
Suara saudagar Portugis itu kini merayap di telinga penguasaku, bukan lagi sebagai kata-kata, melainkan derit halus ribuan rahang anai-anai yang sedang berpesta mengunyah jantung bambu betung dari dalam. Luarnya tampak masih hijau dan kokoh menjulang, tetapi aku tahu, keteguhan hati Karaeng Kodingareng telah lumat menjadi timbunan serbuk hampa yang hanya menunggu waktu untuk runtuh ditiup angin. Matanya yang dulu setajam elang kini meredup oleh ketakutan, terpaku pada salib perak yang menggantung di dada Antonio seakan benda itu adalah dinding gaib yang sanggup membungkam deru mantra Islam yang kian kencang ditiupkan dari cakrawala kesultanan Gowa-Tallo. Penguasaku telah kehilangan nalar agungnya. Menurutnya, salib itu bisa menjadi tameng untuk melindungi takhtanya yang kian keropos. Aku hanya bisa meratapi kebodohan ini dalam diam, menyaksikan runtuhnya keyakinan Karaeng Kodingareng atas darah putih Nasauleng yang telah menjaga tanah leluhur ini.
Aku melihat Karaeng Kodingareng mulai gemetar. Di balik singgasananya, aku bisa mendengar detak jantungnya yang dipenuhi kecemasan tentang pemberontakan dan kekuasaan yang mulai retak. Antonio menggunakan berita kejatuhan Malaka sebagai cambuk untuk menggiring Karaeng Kodingareng ke dalam jebakannya. “Portugis adalah pelindung,” bisik si pembawa sial itu, padahal yang dia lihat di pelabuhan kami hanyalah angka-angka keuntungan.
Lalu, malapetaka itu benar-benar mewujud di tepi sungai.
Air sungai yang keruh membasahi pinggang Karaeng Kodingareng. Aku berdiri di tepian, jemariku mengepal hingga kuku-kukuku melukai telapak tangan sendiri. Dia menunduk di hadapan Antonio, bersimpuh seperti seorang ata, yang meminta belas kasihan. Antonio berlutut, menyendok air dengan tangannya yang biasa menghitung kepingan emas, lalu menyiramkannya ke kepala Karaeng Kodingareng.
“Don Juan,” nama itu meluncur dari bibir Antonio, membunuh nama Karaeng Kodingareng yang telah aku jaga selama tiga puluh tahun lebih.
Aku ingin muntah melihatnya berlaku alim. Aku tahu di balik jubah yang dia paksakan, detak jantungnya tidak bergetar karena iman, melainkan karena kerakusan pedagang yang licik. Dia bukan seorang pendeta; dia hanyalah seekor musang yang sedang menandai wilayah buruannya. Dia menyebut tanah kami Celebes, sebuah nama asing yang mengaburkan asal-usul kami. Karaeng Kodingareng telah menjadi domba yang patuh, sementara pelabuhan megah kami, kini hanyalah sebuah catatan di buku keuangan milik seorang saudagar asing.
***
Pasir itu kini merayap seperti wabah. Setiap kali aku melangkah di dermaga, bunyi gesekan butiran halus di bawah telapak kakiku terasa seperti tawa ejekan Antonio. Sungai Siang yang dulu jernih kini memuntahkan lumpur dan pasir, menyumbat pelabuhan hingga kapal-kapal besar tak lagi berani merapat. Aku mencium bau anyir dari ikan yang membusuk di lumpur dangkal, sementara pedagang Melayu mengemas barang-barang mereka dalam diam, meninggalkan Siang yang kini mulai berbau abu dan kemiskinan.
“Alam sedang murka, Karaeng,” kataku, menatap punggung penguasaku yang kini selalu terbungkus jubah asing. “Siang sedang sesak napas karena pasir yang Karaeng undang.”
Karaeng Kodingareng yang dengan sangat bangga menyandang nama Don Juan, nama yang aku muak menyebutnya, bahkan tidak menoleh. Dia sibuk mengelus salib perak di dadanya. “Hanya masalah pasir kecil, Pinati. Kau terlalu membesar-besarkan hal sepele. Kita akan memerintahkan para ata untuk mengeruknya. Selesai.”
Hatiku perih melihatnya. Dia benar-benar telah kehilangan ingatan leluhurnya. Dia lupa bahwa dalam nadinya mengalir darah putih Nasauleng, dewi langit yang turun untuk menjaga tanah ini. Dengan mengakui dirinya sebagai anak manusia yang lahir dari berahi, dia telah membuang kedewataannya demi dongeng seorang saudagar.
***
Sore ini, menjelang matahari tertelan laut, aku berdiri di tepi sungai, menghibur diriku dengan melihat gelap merayap pada pohon-pohon yang menjulang ke langit. Namun, keheningan ini terasa berbeda. Ada jeda yang ganjil ⸺ seolah alam sedang menahan napas, menunggu sesuatu yang salah terjadi.
Dari kejauhan, telingaku menangkap suara-suara langkah kaki mendekatiku. Hawa dingin kabut fajar yang mulai turun merayap di kulitku. Aku melangkah keluar dari kabut, membiarkan rupa fana ini kembali memadat. Di depanku, barisan titik cahaya berpendar sayup-sayup, seperti bara yang hampir mati kehabisan napas di ujung malam. Obor-obor itu berjejer kaku dalam genggaman tangan yang gemetar.
Kerumunan manusia di hadapanku membeku, menjadi patung-patung bernapas yang terpaku pada kemunculanku. Aku menatap mata mereka yang memantulkan cahaya redup dari api yang kian sekarat tertiup angin lembap.
Aku melangkah dengan tenang. Di hadapan mereka aku berkata, “Aku mencintai Siang lebih dari kalian mencintai nyawa kalian. Cintaku seperti Asmodeus yang menjaga Sarah dari tangan-tangan nista. Tetapi Antonio? Laki-laki itu memandang tanah ini hanya sebagai ladang untuk memuaskan keserakahannya.”
Aku menangkap kilatan tangan-tangan yang terjulur ke tanah, mendengar bunyi gesekan jemari mereka pada kerikil yang terdengar seperti desis ribuan ular.
Aku tidak menunggu sampai teriakan mereka habis Siang sedang sesak napas karena pasir yang Karaeng undang.”
Mereka tidak lagi melihatku sebagai pinati, tetapi sebagai hantu yang diciptakan oleh lidah beracun Antonio.
Malam itu, di dermaga yang sepi, aku menendang perahuku menjauhi tepian. Aku tidak membutuhkan dayung. Alam masih mengenali suaraku lebih baik daripada mereka yang baru saja dibaptis air sungai. Aku memerintahkan angin untuk menarik layarku. Aku minta pasir-pasir yang selama ini menyumbat mulut sungai bergeser ke samping. Pasir-pasir patuh dan membuka jalan setapak yang jernih dan licin, membiarkan perahuku meluncur menuju laut, meninggalkan Kerajaan Siang yang kini mulai berbau kematian.
Aku berbelok memasuki muara Sungai Tallo. Aku bukan lagi pinati. Kini, aku hanyalah daun kering yang hanyut.
Angin tiba-tiba berhenti berbisik. Suara kayu perahu yang berderit terhenti oleh hantaman tumpul. Di tengah sungai yang seharusnya dalam, sebuah batu karang putih muncul, mencuat seperti gigi raksasa yang hendak menelan perahuku. Jantungku berdegup kencang. Apakah ini cara We Nyilik Timoq, menghukumku karena aku meninggalkan Siang yang sekarat? Dewi penguasa dunia bawah tidak pernah semurka ini.
Karang putih itu pecah menjadi kepingan-kepingan hidup yang mengepung perahu. Moncong-moncong dingin muncul dari permukaan air tanpa riak, diikuti oleh sepasang mata pucat yang menatap langsung ke jiwaku. Mereka bukan pemangsa biasa; mereka adalah para dewata sungai. Aku membungkuk dalam-dalam, membiarkan dahiku menyentuh kayu perahu yang lembap.
Tidak ada gigi yang menghunjam, tidak ada air yang bergolak. Tatapan mereka tajam tetapi tenang. “Ikutilah arus ini, Pinati. Jangan melawan,” kata salah satu dari mereka.
Mereka mendorong perahuku menuju tepian. Saat aku mendongak, buaya-buaya putih itu telah menghilang ke dalam kegelapan sungai. Hening. Tak ada suara percikan, seolah-olah alam baru saja menghapus jejak mereka. Aku berdiri sendirian, menyadari bahwa arus zaman ini terlalu kuat untuk kubendung. Aku bukan lagi pengatur takdir, melainkan hanya penumpang dari kehancuran yang tak terelakkan.
Setiap butiran pasir yang bergeser di bawah kakiku terasa seperti tawa ejekan yang tajam. Aku berdiri di tepi sungai, tetapi yang kudengar bukan lagi nyanyian air, melainkan desis kering tanah yang tercekik. Alam telah menjatuhkan hukumannya. Sungai ini kini memuntahkan pasir seakan memuntahkan dosa-dosa rakyat Siang yang telah membelakangiku.
Di kesunyian sungai ini, aku mencoba membasuh martabatku yang terkoyak. Aku muak pada raja dan rakyat Siang yang kini merasa lebih mulia dari sungai dan hutan, seolah-olah baptisan air sungai itu memberi mereka kuasa untuk memerintah alam. Lihatlah hasilnya: hewan-hewan menjadi buas, dan tanah Siang yang dulu keemasan kini berbau abu dan kehampaan.
Namun, di balik rasa muakku, ada sebuah lubang hitam kekaguman yang tak bisa kututup. Antonio tiba di Siang dengan napas yang hampir putus, kulit sepucat mayat, dan raga yang tak berdaya. Namun, dalam sekali kedipan mata sejarah, dia mampu mencerabut akar kepercayaan yang telah tertanam selama beratus-ratus tahun.
Ilmu hitam apa yang dia sembunyikan di balik jubah saudagarnya? Mengapa keabadianku selama empat abad kalah telak oleh kefanaan seorang pria Portugis? Aku adalah pinati yang kekal, tetapi di hadapan Antonio, aku merasa seperti bayangan yang perlahan memudar ditelan matahari asing.
***
Debu tipis mulai menyelimuti bahuku, menetap di atas kulitku yang tak pernah menua. Aku duduk bersila di tepian sungai yang sunyi, mencoba mengunci pintu pikiranku dari hiruk-pikuk pelabuhan Tallo di kejauhan. Aku bisa mendengar derit tiang kapal dagang yang datang membawa lada dan kain sutra, tetapi bagiku, suara-suara itu kini tak lebih dari dengung lalat di atas bangkai sebuah kerajaan.
Aku mencoba bersemedi, mencari titik nol di mana waktu berhenti berdetak. Namun, pikiranku tergelincir kembali pada Antonio. Pria itu datang seperti seonggok daging busuk yang terdampar. Dia tak tahu apa-apa tentang napas tanah Siang atau darah putih leluhur kami. Namun, dengan senjata bernama agama, dia menjatuhkan benteng-benteng yang tak mampu ditembus oleh meriam mana pun.
Yang paling melukai hatiku adalah Karaeng Kodingareng. Penguasaku yang mulia itu kini tampak begitu kerdil. Di hadapan Antonio, dia menanggalkan taringnya. Dia memamerkan jiwanya yang telanjang, yang ternyata hanya dipenuhi oleh ketakutan seorang pengecut.
Aku, lihatlah diriku kini; aku hanyalah bayangan di tanahku sendiri. Rakyat tak lagi berpaling padaku dengan mata yang meredup karena ketakutan. Bagaimana mungkin keabadianku kalah oleh kefanaan seorang saudagar?
Setiap kali bayangan Antonio muncul dalam semediku, aku merasakan kekosongan yang menyesakkan. Ilmunya tidak bisa kupahami, ilmu yang membalikkan hati manusia semudah membalikkan telapak tangan. Kesaktianku kini bukan lagi kehormatan tetapi penjara bawah tanah yang mengurungku dalam penyesalan.
Pelan-pelan, aku membiarkan ingatan tentang Siang memudar, seperti lumpur di atas batu yang tersapu hujan. Aku melepaskan ikatanku pada masa kini dan membiarkan jiwaku melayang, menembus kabut tebal masa depan, mencari sebuah zaman di mana namaku mungkin tak lagi berarti apa-apa.
Di penghujung malam 1565, keheningan yang meraja di tanah Siang terasa lebih berat daripada empat abad pengabdianku, keheningan yang lahir dari kekosongan batin seorang raja yang salah bertaruh dalam perjudian takdir. Aku teringat bagaimana mata Karaeng Kodingareng mulai kehilangan binar suci saat dia menatap ke arah barat laut, ke arah Kesultanan Malaka yang runtuh pada 1511. Di matanya, aku melihat sebuah pengkhianatan yang halus: dia mulai meragukan mantra-mantraku dan lebih memercayai Tuhan dan bedil yang dibawa Antonio demi menghalau gerakan Kesultanan Gowa-Tallo.
Karaeng Kodingareng mengira dengan memeluk salib dari bangsa yang menghancurkan jantung Islam di Malaka, dia akan mendapatkan tameng untuk melawan penguasa Muslim di tanahnya sendiri. Namun, inilah nasib yang menertawakannya: jatuhnya Malaka ke tangan Portugis justru menjadi napas baru bagi Gowa-Tallo. Para pedagang yang terusir dari utara membawa rahasia mesiu, kekayaan, dan dendam ke Makassar, membesarkan musuh kami menjadi raksasa yang tak tertandingi oleh doa-doa Katolik Karaeng Kodingareng.
Saat gerbang istana lumat, aku menyadari satu kebenaran yang jauh lebih dingin daripada air baptis Antonio. Di atas medan laga yang berbau belerang ini, kemenangan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memegang kitab paling suci atau siapa yang merapal mantra paling tua. Gowa-Tallo menang bukan karena agama mereka, dan Siang kalah bukan karena tuhannya Antonio berpaling.
Kemenangan itu datang dari moncong bedil dan dentum meriam yang berbicara lebih lantang daripada doa. Ternyata, nasib sebuah kerajaan tidak lagi digantungkan pada langit, melainkan pada siapa yang memiliki besi dan api paling mematikan di bumi. Karaeng Kodingareng telah menukar kesaktian leluhurnya demi mencari perlindungan pada agama bedil. Namun, dia justru dihancurkan oleh bedil-bedil yang lebih nyata milik saudaranya sendiri, meninggalkan aku sebagai saksi bahwa di zaman baru ini, logam telah menggantikan roh sebagai penguasa dunia.
Aku memalingkan mata batin darinya. Aku tidak bisa membayangkan rupa wajah Karaeng Kodingareng saat dia ditawan dan dibuang dari tanah leluhurnya. Selama berabad-abad, wajah itu bagiku adalah keperkasaan yang tak tergoyahkan. Namun kini, wajah yang dulu dipenuhi seri kedewataan itu harus luruh dan menjadi wajah seorang pesakitan yang kerdil di hadapan bedil-bedil besi.
***
Matahari senja meredup di ufuk Sungai Tallo, meninggalkan jejak merah yang tampak seperti luka lama yang belum kering di atas permukaan air. Aku tidak lagi menapak bumi; kedaulatanku telah lumat bersama jatuhnya Siang, dan kini aku melayang seperti kabut yang merangkak dari dasar sungai. Di tepi air, bayangan pohon-pohon mulai memanjang, merambat seperti tangan-tangan gurita hitam yang perlahan menangkap sisa cahaya yang masih terayun-ayun di atas permukaan air. Aku membiarkan diriku melebur ke dalam kegelapan itu, menjadi satu dengan sunyi.
Di hadapanku, sepasang kapal kayu berlambung coklat kehitam-hitaman menjulang tinggi, berdiri angkuh sebagai menara penguasa di muara sungai yang gelisah. Tiang-tiang layarnya yang kokoh seolah hendak membelah langit malam, membuat kapal-kapal dagang Melayu di sekelilingnya tampak seperti deretan bidak kecil yang rapuh. Di bawah hidung haluannya yang tajam dan dingin, perahu-perahu cadik nelayan setempat tersisih ke pinggiran, bergoyang tak berdaya diterjang ombak sisa dari gilingan arus yang mereka ciptakan.
Melihat keangkuhan itu, sesuatu yang panas meledak dalam sukmaku. Dalam amarah yang memburu, aku menghentakkan tanganku ke udara, memanggil badai. Aku ingin melihat bedil dan kepingan uang mereka tenggelam ke dasar lumpur.
Ombak menggulung dan menghantam lambung kapal, meletus menjadi tirai busa putih seakan membentur dinding karang. Sementara di sekitarnya, perahu-perahu nelayan patah seperti ranting kering. Aku menyaksikan tubuh-tubuh kerempeng itu berjuang berenang ke tepi. Aku hanya bisa menunduk dalam diam. Mengapa sihirku sekarang hanya bisa berguna untuk menyengsarakan orang-orang kecil?
Aku berbalik meninggalkan sungai yang tidak lagi berpihak kepadaku. Lantai hutan yang lembap meredam suara langkahku. Bau daun kering dan tanah yang tak pernah tersentuh matahari memenuhi paru-paruku. Di sini, di balik dinding pepohonan yang merayap tinggi seperti tiang-tiang raksasa, aku menemukan keheningan yang lebih bertuah daripada seluruh mantra yang pernah kurapal. Aku bersumpah: kakiku takkan pernah lagi menginjak tepian Sungai Tallo yang telah dikeruhkan oleh keangkuhan kapal-kapal manusia putih itu. Aku lebih memilih menyatu dengan lumut daripada menjadi saksi kejatuhan alam yang aku Aku menyaksikan tubuh-tubuh kerempeng itu berjuang berenang ke tepi.
Di kesunyian ini, hanya ada aku dan bayanganku. Namun, sebuah kepakan sayap yang ganjil memecah keheningan.
Sesosok wujud muncul dari kegelapan dahan: gagak putih, dengan bulu yang memantulkan cahaya pucat seperti tulang yang dijemur. Matanya yang bening menatapku tanpa berkedip, seolah bisa melihat setiap denyut dendam di hatiku. Aku mengenalinya, utusan maut bagi mereka yang berdarah putih.
Ia hinggap di dahan rendah. Lalu dengan suaranya yang halus dan parau, ia membisikkan tentang sebuah nyawa yang bahkan belum ditiupkan ke rahim ibu; seorang berdarah putih yang akan lahir saat abad ini berganti menjadi abad ketujuh belas. Seorang yang akan dihormati di tanah Eropa tetapi menjadi orang asing di rumahnya sendiri.
“Ilmunya …” bisikku, dan tiba-tiba rasa panas menjalar di dadaku. Jika pria masa depan itu memiliki ilmu yang lebih sakti dari Antonio, maka aku harus memilikinya. Dengan ilmu itu, aku akan mencabut akar manusia bulai dari tanah ini semudah mencabut ilalang mati.
Gagak putih itu tiba-tiba melebarkan sayapnya, mengeluarkan suara yang terdengar seperti tawa manusia yang tersedak. “Kau tidak akan pernah bisa menguasainya, Pinati,” suaranya bergema. “Matamu terlalu penuh dengan debu masa lalu untuk melihat cahaya ilmu itu.” Ia melesat pergi, menjadi riak putih yang ditelan hijaunya rimba.
Aku berdiri sendirian, mencengkeram udara kosong.
***
Tahun 1600. Gema tabuh-tabuhan dari istana Tallo merayap di sela-sela pepohonan, merayakan lahirnya bayi bernama Karaeng Pattingalloang. Bagiku, hidup manusia, entah dia berdarah putih atau merah, hanyalah riak kecil di permukaan sungai yang terus mengalir menuju muara yang sama: ketiadaan. Selama tiga puluh sembilan tahun, aku hanya menonton bayang-bayang saat dia naik takhta, menganggapnya tak lebih dari sekadar penguasa fana lainnya.
Sampai dia membangun menara itu.
Sebuah bangunan yang menusuk langit, tempat dia menyembunyikan benda asing yang dia sebut teropong. Galileo, pria yang menciptakan alat itu ternyata seagama dengan Antonio. Nama ini membisikkan ancaman sekaligus harapan di telingaku. Aku bisa merasakannya di ujung jemariku yang bergetar: benda itu bukan sekadar kaca dan logam, melainkan kunci untuk melampaui kelicikan Antonio dan memulihkan martabatku yang hancur.
Aku harus memilikinya.
Aku memejamkan mata, membiarkan napasku melambat hingga detak jantungku menyatu dengan kesunyian malam. Perlahan, wujud kasat mataku meluruh, melarut ke dalam embusan angin. Aku bukan lagi daging; aku adalah ketiadaan yang bergerak menembus dinding batu yang dingin. Bahkan Pattingalloang, dengan segala kecerdasannya, takkan menyadari kalau aku berdiri tepat di sampingnya.
Saat aku membuka mata di puncak menara, bau kertas tua dan minyak lampu menusuk hidungku. Di sana, Pattingalloang terpaku pada lensa kaca itu, seolah-olah seluruh alam semesta sedang berbisik kepadanya. Manusia aneh ini menolak percaya pada jin yang berkerumun di udara, tetapi memuja benda yang mampu menangkap cahaya dari langit.
Aku melirik catatan di atas mejanya. Pola bersegi-segi yang rumit, deretan angka yang berbaris seperti pasukan yang siap menyerang. Selama empat ratus tahun, aku hanya melihat langit sebagai tempat roh-roh gentayangan; aku tak pernah melihatnya sebagai sebuah naskah yang bisa dihitung. Inilah alasan mengapa aku kalah dari Antonio. Kekuatanku adalah sihir purba yang mulai berdebu, sementara mereka memiliki ilmu yang mampu membedah rahasia Tuhan.
Aku mengatupkan rahang rapat-rapat hingga sendinya terasa kaku, menelan paksa getaran ganjil yang mulai merayap dari pangkal tenggorokanku. Aku akan menunggu dalam kesenyapan yang paling kelam, menunggu saat yang tepat untuk merenggut alat sihir baru ini dan memusnahkan jejak manusia-manusia bulai itu dari tanah leluhurku selamanya.
Sunyi segera merayap masuk ke dalam menara saat derap langkah Pattingalloang dan para pembantunya memudar di balik pintu kayu. Aku melangkah keluar dari kegelapan, wujudku perlahan memadat di samping benda aneh ini. Teropong ini terbuat dari kayu sepanjang lenganku, dibungkus kulit berwarna merah berhiaskan corak segitiga dan kembang keemasan yang berkilau di bawah cahaya lampu minyak.
Aku mengulurkan tangan, menyentuh permukaannya. Rasanya sejuk dan lembut, seperti lumut basah yang tumbuh di atas batu. Ada getaran asing yang menjalar dari ujung kuku ke jantungku saat aku menarik ujungnya hingga memanjang. Dengan hati-hati, aku menyelimutinya dengan kain putih.
Aku memerintahkan angin membawaku ke puncak Gunung Bawakaraeng, titik tertinggi di mana dunia seolah bertekuk lutut di bawah kakiku. Di sana, di bawah langit tengah malam yang sehitam jelaga, aku memancangkan kaki teropong ini.
Aku menempelkan sebelah mataku pada lensa kaca yang dingin.
Seketika, aku terhenyak jatuh ke belakang, jantungku yang abadi seolah berhenti berdetak. Aku mengatur napas yang memburu sebelum kembali memberanikan diri mengintip. Di sana, di balik kaca ajaib itu, duniaku runtuh. Bola-bola raksasa, ada yang putih menyilaukan, ada yang merah membara, berputar dan menari seperti gasing di tangan dewa yang tak terlihat. Bulan tak lagi tampak seperti piringan perak yang tenang, melainkan karang raksasa yang penuh luka dan lubang, menggantung begitu dekat seolah aku bisa menyentuhnya.
Aku memutar teropong itu ke segala penjuru, mataku perih mencari-cari apa yang kulihat di catatan Pattingalloang. Mana pola persegi itu? Mana angka-angka mantra yang dia tulis dengan begitu khusyuk? Tidak ada. Langit tetap bisu, hanya berisi bola-bola batu bercahaya yang bergerak mengikuti alur lingkaran yang tak kumengerti.
Sampai fajar menyingsing dan cahaya matahari mulai membasuh puncak gunung, aku tetap tidak menemukan satu pun angka di angkasa. Pantas saja aku kalah dari Antonio. Selama empat ratus tahun, aku hanya melihat langit sebagai tempat bersemayamnya jin dan roh-roh gentayangan. Aku tak pernah tahu bahwa langit bisa dihitung.
Teropong ini hanyalah benda mati tanpa ilmu yang dimiliki Pattingalloang. Aku merasa kerdil. Aku yang sakti ternyata buta di hadapan kebenaran baru. Dengan berat hati, aku membungkus kembali alat itu dan mengembalikannya ke menara. Aku tidak butuh kacanya, aku butuh ilmunya. Aku harus tahu mantra apa yang digunakan mangkubumi itu untuk membaca pikiran Tuhan di atas sana.
*****