Tujuh Minggu Perjalanan Pulang

Yogyakarta – 10–19 Oktober, 2017

Kamis, 12 Oktober, 2017: Di The 5th Literary Studies Conference, yang diselenggarakan oleh Universitas Sanata Dharma, saya menampilkan: “From immigrant to diasporan, a homecoming of the heart.” – “Dari perantau menjadi diaspora – perjalanan rohani ke kampung halaman.”

Tautan acara: https://www.youtube.com/watch?v=97fHmZLXxnQ

Apakah perjalanan rohani ke kampung halaman ini cukup untuk mendapatkan kembali hak istimewa untuk dianggap sebagai bagian dari bangsa Indonesia?

***

Jumat, 13 Oktober 2017: Dalang Publishing diberikan kesempatan untuk membawakan acara pembahasan dalam kelompok “The importance of literary translation” – “Pentingnya terjemahan sastra” yang menampilkan masing-masing bagian dari terbitan asli dan terjemahannya. Kami menampilkan terbitan terbaru kami, terjemahan dalam bahasa Inggris oleh Maya Denisa Saputra dari Dasamuka karya Junaedi Setiyono, bersama dengan karya aslinya yang diterbitkan oleh Penerbit Ombak.

Tautan acara: https://www.youtube.com/watch?v=5XUyozMHOnA

Terjemahan dari sebuah karya novel, memampukan pembaca di seluruh dunia untuk menikmati karya dari penulis yang berbeda asal. Dengan demikian pembaca tidak hanya dapat mempelajari gaya menulis dari sang penulis, namun juga diberi kesempatan untuk mengintip sekilas isi hati tokoh-tokoh ceritanya.

***

Kartika Nurul Nugrahini dari Penerbit Ombak: Bagi kami, keberhasilan penerbitan sebuah buku, tergantung pada dampaknya pada pembaca. Untuk membagi pengetahuan dan melakukan pertukaran kebudayaan, penerjemahan merupakan hal yang sangat penting.

Junaedi Setiyono: Saya terdorong untuk mengarang novel sejarah karena selain ingin menyampaikan keindahan bahasa dalam bentuk cerita, saya juga ingin pembaca saya memahami dan menghargai kehidupan leluhurnya pada saat mereka merancang masa depannya.

Maya Denisa Saputra: Saya harap terjemahan saya dapat bermanfaat sebagai penghubung kebudayaan dunia barat dan timur dengan menyajikan kebudayaan Indonesia kepada pembaca dunia barat.

Ari J. Adipurwawidjana, pengulas sastra: Semua karya yang dapat membantu kita, sebagai bangsa, bangkit dari kealpaan kebudayaan dan sejarah kita, adalah patut diterjemahkan.

***

Setelah tampilan, Jun dan Maya sibuk menandatangani buku Dasamuka.

Sebagai bagian akhir sebelum penutup acara, dilakukan bicara beregu yang dipandu oleh Elisabeth Arti Wulandari dari Universitas Sanata Dharma antara perwakilan dari University of San Tomas, di Philipina, Maria Luisa Torres Reyes dan Joyce Arriola,  Inseop Shin dari Konkuk University di Korea, dan saya.

Tautan acara: https://www.youtube.com/watch?v=wcc9KwBMnnU&feature=youtu.be

***

Senin, 16 October, 2017: Kami tampil di Universitas Sanata Dharma: “Peran terjemahan dalam menduniakan sastra Indonesia,” Kuliah Umum digabung dengan pembicaraan berkelompok yang diakhiri dengan pemaparan buku Dasamuka karya Junaedi Setiyono.

Tautan acara: https://www.youtube.com/watch?v=Fb_3laJ266s&feature=youtu.be

***

Waktu senggang di Yogyakarta saya gunakan untuk mengunjungi tempat-tempat yang tertulis di dalam buku Dasamuka dan bertemu dengan teman-teman akrab.

***

Rabu, 18 Oktober 2017: “Mengangkat sastra Indonesia ke panggung dunia melalui penerjemahan,” Kuliah Umum di Universitas Muhammadiyah Purworedjo.

Tidak mungkin menjadi penerjemah tanpa menguasai bahasa ibu.

***

Semarang dan Salatiga – 19–25 Oktober, 2017

Sabtu, 21 Oktober 2017: Karangturi menyelenggarakan, “Mencari jalan untuk meningkatkan mutu karya penulis Indonesia di masa depan,” perbincangan dengan kurang lebih 40 guru SD, SMP dan SMA tentang cara-cara untuk mengangkat mutu dalam menulis.

Bahasa adalah dasar segala tulisan. Penguasaan bahasa, terutama bahasa ibu, adalah keharusan bagi seorang penulis, penerjemah dan penerbit. Bahasa memberikan kita suara. Tanpa suara kita tiada.

***

Tidak pulang kampung namanya jika tidak mampir beberapa hari ke rumah sahabat Lisa dan Harjanto Halim dan makan bersama dengan Inge Widjajanti dan suaminya.

***

Kebahagiaan setiap pulang ke Indonesia adalah menghabiskan waktu di Havana Horses.

***

Surabaya – 26 Oktober – 1 November, 2017

Jumat, 27 Oktober , 2017: “The importance of literary translation” – “Pentingnya terjemahan karya sastra” lokakarya penerjemahan dengan tuan rumah Jurusan Bahasa Inggris, Universitas Petra.

Tautan acara: https://www.youtube.com/watch?v=khLsfh1r1vY&feature=youtu.be

Warna serta suasana khas daerah seringkali hilang dalam terjemahan jika terjemahan tersebut disunting oleh penyunting yang hanya menguasai bahasa tujuan.

***

Makan bersama sahabat-sahabat lama selalu menggembirakan.

***

Bandung – 1-8 November, 2017

Jumat, 2 Nopember, 2017: Kuliah Umum di Universitas Padjadjaran: “Peran bahasa dalam perjalanan rohani dari perantau menjadi diaspora,” dilanjutkan dengan tampilan para mahasiswa dari beberapa cuplikan buku Dasamuka karya Junaedi Setiyono dan pembahasan Potions and Paper Cranes, terjemahan bahasa Inggris dari Perempuan Kembang Jepun karya Lan Fang dan novel saya Only A Girl. Gambar dan tulisan sebagai latar belakang acara itu sangatlah memukau dan menyenangkan bagi saya (lihat foto).

Tautan acara: https://www.youtube.com/watch?v=67EbCQ8XWU0&feature=youtu.be

Sebagai seorang diaspora Indonesia, adalah kewajiban saya untuk merawat dan menghormati bahasa Indonesia.

***

Di Bandung saya menikmati keramahan Pak Ari sebagai tuan rumah.

***

Jakarta – 9-16 November, 2017

13 November, 2017: “Seminar nasional bahasa dan sastra” diselenggarakan oleh Universitas Pamulang.

Sedih rasanya, ketika saat ini kita, sebagai bangsa yang telah berhasil merebut kemerdekaan, sekarang bahkan dengan sukarela memperbudakkan diri pada apa saja yang berbau Barat. Hingga mengorbankan bahasa kita sendiri dengan membiarkan penyusupan bahasa Inggris di dalam penggunaannya.

Yang mengesankan dari acara ini adalah tampilan dari para mahasiswa membacakan puisi karya Muhammad Wildan, dosen Sastra Indonesia, Universitas Pamulang, berjudul ‘Negeriku.’ Sebagai penutup saya ingin mengutip puisi tersebut:

Negeriku

oleh

Muhammad Wildan BRD

Negeriku, ingin kusampaikan padamu

Atas pundak kau pikul berat beban

Tampak letih, namun tegar

Ulah angin sepoi berhembus dari sudut Alexis

Padahal kau tahu

Lalu mengapa tidak kaukatakan kepadaku?

Di saat aku dan dirimu pernah duduk bersanding

Malah kau ucapkan lain kata

Negeriku, mungkin kau tahu

Namamu kau pertaruhkan

Lewat kabar tersiar

“Anies tutup Alexis”

Masyarakat lalu tanya

Alexis itu apa?

Alexis itu di mana?

Apa dosa Alexis?

Rakyatmu butuh jawaban

Barangkali dirimu telah menjawab

Ah pura-pura tak tahu

Surga dunia itu, kini

Menyisahkan pro-kontra

Pro karena namanya terdaftar dalam katalog

Pro karena tempat mengais pundi

Kontra karena ini janji kampanye

Kontra karena tidak sesuai adat ketimuran

Entahlah alasan apalagi

Yang pasti, beban dipundakmu segera diringankan

Negeriku…

Tak hanya beban Alexis yang kaupikul

Ada di atas pundakmu…

Rakyat jelata, rakyat jelata, rakyat jelata

Dahaga di tengah terik matahari

       Namun kering tetesan air

Hasrat belajar memuncak

       Namun pendidikan masih diukur nilai rupiah

Praktik ajaran keagamaan mulai menggeliat

        Namun penuh gangguan

Cobalah kau katakan

Kepadaku

Sesungguhnya apa yang terjadi dengan dirimu

Wahai negeriku…

***