Windy Marthinda, ibu tiga anak yang gemar menulis. Didukung penuh oleh sang suami untuk tetap menulis di sela-sela pekerjaannya di sebuah rumah sakit.. Windy telah menerbitkan beberapa novel dan antologi cerpen, diantaranya: Mystery of Amazon (Voila! Publishing 2021), Elang (Voila! Publishing 2021), Rahim (Voila! Publishing 2021), Pulang ke Rumah (Voila! Publishing 2023), Instalasi Bedah Cinta (D’Best Publishing 2022), dan Doctor Hospitalicious (D’Best Publishing 2023).
Sebuah novelnya bertajuk Acroxia the Exotic Land (Mizan 2022) mendapat ulasan yang baik dari salah satu sastrawan Indonesia. Salah satu ulasannya: “Windy bukan hanya cerdas, melainkan juga memiliki energi menulis yang mengagumkan.” (Kurnia Effendi, Sastrawan Indonesia).
Windy Marthinda dapat dihubungi di:
*****
Duruwiksa
Kata orang-orang kampung, kakekku memelihara siluman berwajah menakutkan dan berbadan raksasa. Mereka menyebutnya Duruwiksa atau buta.
Baru sebulan lalu aku merasa benar-benar mengenal kakekku. Semenjak lahir, aku memang tinggal di luar kota. Keadaanlah yang membuatku tidak tinggal bersama Kakek. Lelaki lewat setengah abad itu terlalu suntuk menghabiskan waktunya untuk sendirian di dalam kamarnya. Kakek sering berdiam diri di sebuah ruangan tertutup di dalam rumah.
“Selama kuliah di Bandung nanti, kamu tinggal sama Kakek saja. Bunda tidak mengizinkanmu ngekos, karena khawatir akan keselamatanmu. Kalau di rumah Kakek, kamu aman.” Bunda berkata.
Kalau Bunda sudah bersabda, aku mati kutu. Tidak ada gunanya melawan. Keputusannya sudah bulat. Tentu itu keputusan yang disertai doa untuk anak perempuan sulung yang bersemangat melanjutkan pendidikannya ini.
Berbeda dengan perkiraanku, kepindahanku ke rumah Kakek sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Selain aku bisa mengenal lebih jauh sosok Kakek yang mengandung rahasia, aku juga bisa membantu Teh Qonita mengajar. Dia sepupu jauhku yang mengajar matematika di sebuah lembaga bimbingan belajar dekat rumah Kakek. Lumayan, untuk menambah jam terbang sebagai seorang pendidik nanti.
Matahari menyerupai bola api, jingga, dan tampak lebih besar ketika aku membuka pintu gerbang rumah Kakek. Bi Saripah — yang kupanggil Bi Ipah — menyambutku di beranda, menyuruhku segera mandi dan lalu menyantap makanan yang telah dia siapkan.
“Bibi diamanati buat mengurus Neng Silva. Pokoknya Neng teu kenging nolak. Tidak boleh, ya. Nanti Bibi yang kena marah Kakek,” ujar Bi Ipah pada suatu hari saat aku menolak diperlakukannya seperti anak-anak.
Pembicaraanku dengan Bi Ipah tentang pelayanannya padaku pun berujung pada kenyataan bahwa aku yang akhirnya harus mengalah. Di mata Kakek dan Bi Ipah, aku dianggap masih bocah. Termasuk ketika aku bertanya mengapa Kakek lebih sering mengunci diri di kamarnya. Padahal dia bisa menikmati semilir angin di pekarangan atau mengurus burung-burung peliharaannya yang jumlahnya belasan. Menurutku, terlalu banyak hal janggal tentang Kakek. Pada suatu malam, aku dikejutkan oleh kedatangan beberapa orang tamu. Kuintip mereka dari balik jendela kamar yang menghadap langsung ke pekarangan depan. Mereka berpakaian serbahitam menyerupai baju pemain silat, mereka datang mengendarai sebuah truk.
Sekitar empat atau lima pria berjalan hilir mudik, mengangkut berbagai barang dari atas lantai pendapa. Alat-alat musik gamelan, kotak-kotak kayu berukuran besar yang menyerupai peti, serta umbul-umbul beraneka warna dipindahkan dari bangunan di depan rumah itu ke truk yang berhenti di luar pagar.
Penasaran, kutemui Bi Ipah yang sedang bekerja di dapur. Dia tengah menuang air panas ke dalam termos kecil. Di meja terdapat beberapa jenis makanan yang dia masukkan ke dalam rantang susun.
“Itu orang-orang padepokan seni, Neng. Kakek malam ini mau manggung di desa sebelah.” Bi Ipah menerangkan sebelum aku mengutarakan rasa ingin tahuku.
Aku mengerutkan alis, tetapi kemudian mengendur saat teringat obrolan Kakek dengan Bi Ipah dua hari lalu. Kakek diundang untuk mendalang wayang golek dalam rangka syukuran pernikahan anak kepala desa sebelah. Kakekku memang seorang dalang. Meski sudah tidak terlalu banyak ditanggap seperti selagi muda dulu, dia masih menerima beberapa undangan mendalang dalam setahunnya. Undangan itu terutama dari pelanggan lama yang usianya satu angkatan dengannya.
Nama Kakek cukup dikenal di kalangan budayawan dan seniman Sunda Kakek juga tidak pelit dengan ilmu dan keterampilan mendalangnya. Dia punya cukup banyak murid. Bagi murid-muridnya, Kakek adalah sosok panutan. Pembawaannya berwibawa dengan perawakan yang tinggi dan tegap. Meski usianya menginjak akhir kepala tujuh, gerakannya terlihat sigap layaknya anak muda.
“Emang mulainya jam berapa, Bi? Jam segini, kok, baru angkut-angkut barang?”
“Kalau pertunjukan wayang golek biasanya dimulai tengah malam, Neng. Menjelang subuh baru selesai.” Bi Ipah menatapku, seolah dia heran dengan pertanyaanku.
Aku tidak bertanya lagi sampai perempuan itu selesai berkemas. Dia pamit untuk mengantarkan bekal Kakek ke ruang depan, meninggalkan aku yang mulai berpikir tentang kakekku. Cerita mengenai Kakek yang memelihara buta atau raksasa jadi-jadian, terus mengusik benakku. Mengapa sampai ada kabar angin semacam itu? Tentu ada sebabnya mengapa warga menduga Kakek berbuat demikian. Apakah di zaman yang sudah maju seperti sekarang masih ada hal-hal klenik seperti yang dikabarkan orang-orang? Kini beberapa hal aneh melintas dalam pikiranku. Aku teringat gerak-gerik Kakek yang janggal akhir-akhir ini. Sejak beberapa hari lalu, sikap Kakek berubah; dia tidak banyak bicara saat bertemu muka denganku. Wajahnya tampak tegang tiap kali keluar dari kamarnya.
“Kakek tampak sedih. Ada apa, Kek?” tanyaku untuk mengurangi rasa penasaranku.
Setelah memandangku lekat-lekat beberapa saat, dengan suara pelan Kakek berkata, “Saat aku seusiamu, keputusanku untuk bisa secepatnya kaya, berwibawa, dan disukai banyak orang kuambil. Sekarang aku menyesali keputusanku itu.”
Pembicaraan ringan dan berlangsung sambil lalu itu berat menekan batinku cukup lama. Cukup lama, sampai terdengar langkah kaki mendatangiku.
“Teh Sil, mau nonton?” Tiba-tiba seorang remaja laki-laki muncul di ambang teras, membuatku terperenyak.
Arip, anak Bi Ipah, sering datang ke rumah Kakek. Dia kerap membantu ibunya membereskan banyak pekerjaan, termasuk mencuci mobil dan memberi makan burung-burung peliharaan Kakek. “Kalau mau nonton, ayo sama Arip.” Mata bulatnya berbinar-binar.
“Emang kita bakal kuat nonton sampai subuh?” Aku menelengkan kepala. “Enggak janji deh.”
“Besok kan hari Minggu, Teh. Jadi aman begadang juga,” Arip menyeringai.
Aku tercenung sesaat. Usul Arip boleh juga. Seumur hidup, aku belum pernah menyaksikan pertunjukan wayang golek secara langsung. Mungkin hanya beberapa kali menonton di televisi. Itu pun tidak sampai selesai.
“Tapi jangan bilang Mamah, ya,” bisik Arip.
“Kenapa?”
“Suka cerewet, bilang segala enggak boleh.”
Aku terkekeh.
“Oiya, Teh, kalau nonton wayang, jangan minta pulang sebelum selesai pertunjukan.” Arip menyipitkan mata.
“Emang kenapa?” tanyaku penasaran.
“Kata Mamah, itu pamali. Apalagi sekarang malam bulan purnama” Arip kembali menyeringai.
Aku mengernyit.
“Pokoknya, kita enggak boleh melanggar aturan dari Kakek, Teh. Begitu kata Mamah.”
Arip menatapku tajam.
Pamali kata ini adalah senjata para orang tua seperti ibuku yang selalu menyebutkan kata itu jika aku mempertanyakan mengenai sebuah aturan. Bagiku itu hanya siasat melarang si anak melawan – melawan dengan pendapatnya yang lebih masuk akal.
Begitu pula ketika aku mulai tinggal di rumah Kakek. Sebelum berangkat, Bunda mewanti-wantiku untuk tidak sembarangan bicara di depan Kakek. Tidak boleh masuk ke kamar Kakek tanpa izin. Dilarang berkeliaran pada malam hari terutama di sekitar pendapa. Tidak boleh ini. Tidak boleh itu. Pamali.
“Teh, ini antara kita aja, ya.” Arip mencondongkan tubuhnya.
Aku mengangguk penuh minat.
“Kalau kita nonton wayang enggak sampai beres, duruwiksa akan mencegat kita di jalan.” Arip bicara dengan gaya berahasia.
“Apa itu duruwiksa?” tanyaku.
“Sssttt! Jangan keras-keras! Nanti ada yang dengar.” Arip meletakkan telunjuk di depan mulutnya sendiri lalu menjelaskan apa itu duruwiksa. Duruwiksa digambarkannya sebagai buta, raksasa, dengan wajah menyeramkan. Mulutnya lebar dan memiliki taring panjang. Matanya melotot, bahkan ada yang bola matanya merah. Duruwiksa mewakili wujud keserakahan dan sifat-sifat buruk makhluk di bumi, sifat-sifat yang harus diperangi.
Kemudian Arip menceritakan kisah yang dialami oleh teman mamahnya yang meninggalkan pertunjukan wayang golek sebelum pegelaran itu berakhir. Ketika teman mamahnya itu berjalan pulang, dia bertemu dengan bayangan menakutkan. Bayangan itu kian membesar di hadapannya. Sosoknya seperti manusia berbadan gemuk, tetapi terlalu tinggi untuk ukuran orang pada umumnya. Ketika pelan-pelan teman mamahnya menoleh ke belakang, matanya kembali terbelalak.
Seperti mimpi, di hadapannya berdiri sesosok makhluk menyerupai tokoh buta atau raksasa dalam lakon wayang golek. Tubuhnya ditumbuhi rambut-rambut kasar yang jarang. Kulitnya berwarna abu-abu. Wajah buta itu makin jelas ketika angin berembus, menggeser gemawan yang sebelumnya menutupi bulan purnama.
Wajah buta itu memiliki sepasang mata yang menonjol. Hidungnya bulat dan besar. Mulutnya terbuka lebar dengan lidah terjulur hingga mencapai dada. Dari mulut yang dipenuhi geligi tajam, menetes air liur yang mengenai sebagian kaki teman mamahnya itu. Dia merasakan tetesan air liur itu begitu nyata, hangat, dan lengket.
“Lalu bagaimana nasib teman mamahmu itu?” aku memotong ceritanya, tidak kuasa menahan rasa penasaranku.
“Dia ditemukan tergeletak pingsan di pinggir jalan oleh orang-orang yang pulang dari menonton pertunjukan wayang golek,” kata Arip dengan suara dibesarkan diseram-seramkan.
“Ohh!”
Kami pun sesaat berdiam diri. Agaknya cerita itu tidak hanya menakutkan bagiku tetapi juga bagi Arip sendiri.
“Jam setengah dua belas, Arip jemput Teteh pakai motor, ya. Malam ini Mamah nginep di rumah nenek Arip. Jadi kita aman.” Setelah meninggalkan sebongkah penasaran di dadaku, Arip pergi begitu saja, membuat dua jam penantian terasa seperti dua tahun lamanya.
Tepat pukul sebelas tiga puluh malam, Arip benar-benar datang mengendarai sepeda motor bebek. Dia mengenakan jaket, kupluk, dan celana berbahan tebal. Angin malam memang terasa menggigit. Aku pun memutuskan untuk memakai mantelku.
Setelah beberapa menit membonceng Arip, dari kejauhan suara gamelan mulai terdengar. Ingar-bingar makin jelas ketika kami memasuki kawasan tanah lapang. Suasana malam menjelma seperti keramaian siang. Orang-orang berbagai usia berkumpul. Para pedagang mengambil kesempatan untuk meraup keuntungan dalam peristiwa hajatan itu. Pesta begitu meriah meski waktu telah meninggalkan tengah malam dan titik-titik gerimis tipis mulai datang.
Tak lama sejak kami tiba, pertunjukan wayang golek digelar. Kakek muncul diiringi sorak-sorai penonton yang mengelu-elukannya. Penampilannya begitu merampas perhatian, dan menyihir sejenak para pengagumnya. Dengan pakaian khas seorang dalang, Kakek tampak lebih gagah dibanding dengan penampilan kesehariannya. Wajahnya memancarkan pesona yang sulit untuk dijelaskan. Kakekku terlihat lebih ganteng dan berwibawa.
Tokoh-tokoh wayang dijejerkan di depan kakekku. Sunduk, penyangga wayang berupa tusuk terbuat dari kayu ditancapkan pada sebatang pohon pisang besar yang direbahkan. Batang pisang itu telah dikuliti bagian luarnya sehingga tampak mulus. Sementara Kakek duduk di balik panggung menghadap para wayang.
Gamelan mulai dimainkan, disambut tepuk tangan membahana para penikmat seni wayang golek. Tidak tua, tidak muda, penonton melebur dan terhanyut dalam kisah “Perang Baratayudha” yang disajikan secara apik oleh kakekku.
Seperti yang lainnya, Arip berkali-kali mendesah kagum akan kepiawaian Kakek melakonkan boneka-boneka kayu dengan menggunakan kedua tangannya. Sesekali pemuda ingusan itu bertepuk tangan dan bersorak. Jantungku berdentam-dentam tatkala menyaksikan perkelahian antara salah satu tokoh buta dengan Bima. Apalagi irama musik yang dimainkan pun sangat mendukung adegan itu. Benar-benar menakjubkan.
Waktu tengah malam sudah ditinggalkan satu setengah jam yang lalu. Pertunjukan pun makin seru sampai tiba pada babak selingan. Gelak tawa mewarnai penonton di sekelilingku ketika tokoh Cepot dan Dawala ditampilkan. Meski mereka tokoh yang jenaka, ada ucapan celetukan sarat pesan yang dapat disimak saat mereka berbincang-bincang. Di antaranya mengenai keberpihakan mereka kepada keluarga Pandawa Lima yang menjunjung tinggi kebenaran.
Rasa hangat menyeruak ke dalam dadaku saat Semar muncul. Dengan kebijaksanaannya, Semar mampu mendamaikan anak-anaknya yang sedang berseteru dengan salah satu tokoh buta yang kocak. Sebelumnya bahkan si buta memuntahkan mi kuning dari mulutnya ketika dihajar oleh Cepot. Aku tidak pernah menyangka, kakekku yang kukenal sebagai kakek-kakek kurang ramah ternyata mampu memukau banyak orang melalui pertunjukan wayang golek yang dia sajikan.
Menyaksikan pertunjukan wayang secara langsung seperti ini merupakan pengalaman yang menyenangkan. Suasananya amat berbeda dengan saat menonton melalui televisi. Ada rasa bangga menyelinap ke benakku. Aku begitu beruntung memiliki kakek yang masih menjunjung tinggi budaya di tengah-tengah kemajuan zaman seperti sekarang. Aku sebagai cucu seorang dalang semestinya turut melestarikan kebudayaan nenek moyang ini, bukannya malah lebih menyukai pertunjukan masa kini yang hanya dipenuhi ingar-bingar. Aku jadi merasa bersalah.
Jarum jam di arlojiku menunjukkan pukul dua dini hari, ketika sekonyong-koyong perutku melilit. Mungkin karena angin yang berembus cukup kencang yang mengiringi turunnya hujan gerimis atau karena jadwal bulananku akan segera datang. Aku meringis menahan nyeri karena isi perutku seperti terpilin-pilin.
Kutepuk bahu Arip yang masih penuh perhatian menatap panggung. Dia menoleh. “Teteh mau cari kamar kecil dulu, ya,” ucapku agak lantang untuk menyaingi bisingnya suara irama rancak gamelan.
Arip manggut-manggut lalu mengacungkan dua ibu jarinya sambil tersenyum. Dia lantas kembali menonton. Entah dia mendengar perkataanku dengan jelas atau tidak, terpenting bagiku harus segera menemukan tempat yang nyaman untuk buang hajat.
Aku menanyakan letak kamar kecil terdekat pada seorang penonton wanita di bagian belakangku. Dia mengatakan aku bisa memakai kamar jamban di gedung balai desa. Jaraknya tidak sampai tiga ratus meter dari lapangan tempat pesta diadakan. Aku mengucapkan terima kasih kepadanya lantas tergesa-gesa pergi menyelinap di antara kerumunan orang.
Ke arah yang sesuai dengan petunjuk wanita tadi, aku melangkah. Rasa melilit di perutku menjadikanku tidak peduli dengan gerimis yang membasahi rambutku. Untuk sampai ke balai desa, aku harus melewati pesawahan yang gelap. Agar tidak tersandung, aku menyalakan lampu senter pada telepon genggamku. Suasana malam tidak membuatku gentar karena bunyi gamelan masih dapat terdengar meski aku berjalan makin jauh dari tanah lapang. Didorong mulas yang menyiksa, keberanianku meningkat berlipat.
Aku termasuk perempuan pemberani, tidak takut pada gelap atau suasana sepi. Jadi, ketika kulihat kelebatan bayangan di sepanjang jalan beraspal yang membelah petak-petak sawah, aku bertekad untuk tidak mundur. Hajatku telah di ujung tanduk. Kalau aku berhenti, sepertinya perutku akan meledak. Namun, tiba-tiba angin kencang menerpaku. Aku sampai sempoyongan karena terdorong kekuatannya. Seolah-olah angin itu mencegahku untuk melangkah lebih jauh. Dari kelam langit kulihat garis berkelok terang membelah pekatnya malam. Rupanya gerimis akan segera berubah menjadi hujan deras. Angin pun bertiup lebih kencang.
Rasa mulasku agak mereda karena beralih perhatian pada tiupan angin yang mengantarkan hujan. Namun, aku tidak mungkin berbalik arah setelah pergi sejauh ini. Jika aku kembali ke lapangan, nanti sakit perut malah datang lagi. Aku tetap harus menuju jamban.
Serta-merta tubuhku tersentak saat seakan-akan ada yang menarik tanganku dari belakang. Aku terjerembap jatuh ke jalanan. Saat itu mendadak nyaliku sedikit ciut. Apa mungkin ada dedemit yang ingin menggangguku?
Segera kurapalkan doa dalam hati. Aku berusaha bangkit, tetapi urung ketika seolah muncul sebuah bayangan di hadapanku. Aku teringat cerita Arip tentang duruwiksa yang mengadang teman mamahnya. Angin bertiup lebih kencang, dan ada gelegar tepat di atas kepalaku.
Sentuhan lembut di pipi membuatku perlahan-lahan membuka mata. Serbuan cahaya yang menyilaukan menyebabkan aku mengerjap-ngerjap. Kemudian dadaku rasanya membuncah ketika pandanganku semakin jelas. Aku begitu bahagia melihat wajah Kakek dan sadar bahwa aku sedang terbaring pada tempat tidur di kamarku sendiri.
“Kakek,” bisikku lemah.
Pria sepuh itu tak menjawabku. Dia hanya terdiam dan tersenyum tipis. Tatapan matanya yang beriris kelabu karena dimakan usia menatapku syahdu. Tangannya yang menonjolkan urat-urat berkelok kehijauan terulur.
Kakek membelai kepalaku. “Kamu tidak apa-apa, kan?”
Aku menelan ludah. Tenggorokanku tersekat, tak mampu menjawab. Kelebatan wajah duruwiksa yang seolah menyeringai mengadangku di tengah hujan dan petir masih begitu jelas tergambar dalam benak ini. Aku bergidik ngeri.
“Kakek sudah pernah bilang, jangan pernah melanggar aturan mengenai pertunjukan wayang golek. Jangan beranjak dari tempatmu sebelum pertunjukan berakhir jika tidak mau terjadi sesuatu yang buruk menimpamu.” Kakek menepuk-nepuk pipiku sembari tersenyum.
Aku terdiam. Ada penyesalan yang begitu besar dalam dada hingga rasanya menarik napas saja aku kesulitan. Aku percaya, kisah mengenai duruwiksa bukan isapan jempol semata. Pengalamanku yang seolah bertemu muka dengan durukwiksa, sungguh hal yang menakutkan.
“Aku menasihatimu, karena aku begitu menyayangimu. Jangan mentang-mentang kamu sudah merasa dewasa, lantas tidak mengindahkan perkataanku.” Suara Kakek yang begitu dalam membuat dadaku bergetar.
Sebulir bening meluncur dari pelupuk mataku. Aku sungguh terharu dengan pilihan hidup Kakek yang kini disesalinya. “Maafkan aku, Kek.”
*****