Tria Oktafiana, lahir di Probolinggo, Jawa Timur. Saat ini mengabdi sebagai guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 41 Purworejo. Dia senang berperan sebagai penggerak kegiatan membaca dan menulis sastra dan budaya di sekolahnya. Sejak muda, Tria telah mencintai dunia penulisan sastra, khususnya puisi dan cerita pendek. Puisi-puisinya telah dituliskan pada buku kumpulan puisi bersama penulis lainnya. Buku terbaru yang telah terbit yakni Akar Serumpun Anyaman Rasa (SIP Publishing Indonesia 2025) dalam kegiatan Festival Puisi Tiga Negara — Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Buku kumpulan puisi Gendang Gending 100 Tahun Kinartosabdho (Dewan Kesenian Provinsi Jawa Tengah 2025) yang menerbitkan 100 penyair, salah satu di antaranya penulis Junaedi Setiyono.
Karya Tria berangkat dari pengalaman sederhana sehari-hari yang kemudian dirangkai menjadi kisah yang menarik.
Tria Oktafiana dapat dihubungi melalui: triaoktafiana56@gmail.com
*****
Nyanyian Gasing
Di tengah gasing kekinian yang ringan dan mengejar kecepatan, gasing bambu Desa Kaligondang tetap kokoh berdengung. Pagi itu, Desa Kaligondang belum sepenuhnya terjaga, tetapi tanda-tanda kehidupan telah tampak. Asap dapur mengepul perlahan dari rumah-rumah bambu, menyatu dengan embun yang masih menggantung di ujung dedaunan. Di tanah lapang yang lembap oleh sisa embun malam, gasing-gasing bambu tergeletak rapi.
Gasing bukan sekadar mainan, melainkan penanda adat yang diwariskan para leluhur. Setiap putarannya dipercaya membawa doa, setiap dengungnya menyimpan pesan tentang keseimbangan hidup, sebagaimana kebiasaan yang terus dijaga di Lembah Manah, di kaki Perbukitan Menoreh dekat aliran Sungai Bogowonto.
Sejak masa utusan Majapahit masih melintasi jalur-jalur tua di wilayah selatan Jawa, gasing telah memiliki tempat istimewa dalam kehidupan masyarakat Kaligondang. Ketika musim panen usai dan pekerjaan ladang mereda, warga berkumpul di tanah lapang untuk menyaksikan pertandingan gasing. Bukan untuk bertaruh atau mencari keuntungan, melainkan untuk merayakan kebersamaan. Anak-anak belajar ketekunan dengan menyaksikan pemain yang lebih tua bertanding, sementara para pemuda turun ke gelanggang mempertaruhkan kehormatan kampung dalam setiap putaran gasing. Dari sanalah mereka ditempa menjadi pribadi yang berani, jujur, dan lapang dada, sedangkan para sesepuh mewariskan kisah-kisah leluhur di sela-sela dengung gasing yang berputar. Karena itulah, bagi warga Kaligondang, gasing bukan sekadar warisan benda, melainkan warisan nilai yang menjaga persaudaraan desa secara turun-temurun.
Namun, itu dulu, beberapa dasawarsa lalu. Seiring berjalannya waktu, kebersamaan itu sedikit demi sedikit luntur dan berubah menjadi persaingan. Selanjutnya, persaingan itu akhirnya secara pelan tetapi pasti dikemas warga desa menjadi pertandingan yang menghasilkan sang pemenang dan si pecundang.
Arya tumbuh besar dengan bunyi dengung gasing. Ayahnya adalah perajin gasing bambu terbaik di desanya. Arya duduk di dekat ayahnya. Matanya mengikuti setiap tahap pembuatan gasing. Ayah memilih bambu wulung, lalu mengetuknya pelan hingga terdengar bunyi yang padat. Dengan berbagai alat, seperti gergaji, pisau raut, dan pahat kecil, ayah membentuk ruas bambu itu menjadi badan gasing yang seimbang, lalu memasang poros runcing pada bagian bawahnya sebagai titik putar. Arya memperhatikan setiap bagian yang dirapikan agar gasing dapat berputar tegak dan bertahan lama. Setelah diamplas, diasapi dan diolesi minyak kelapa, gasing berwarna hitam pekat itu berkilau. Arya belajar bahwa gasing yang baik dibuat dengan teliti dan menggunakan bahan serta alat yang tepat.
Karung gasing bergoyang di punggung Arya. Tubuh laki remaja itu kurus seperti ranting bambu. Kakinya melangkah cepat membelah hamparan sawah hijau. Tangannya menggenggam gasing bambu kesayangan berwarna hitam pekat. Dia menamainya Garuda Terbang. Arya berlari menuju lapangan desa. Langkahnya memecah tanah yang masih lembap oleh embun pagi. Dadanya naik turun, napasnya terpotong-potong mengikuti derap kakinya. Dia berhenti sejenak di tepi lapangan untuk menyeka kening dengan punggung tangan, lalu tersenyum tipis saat melihat lima anak telah berdiri melingkar. Gasing-gasing mereka tergeletak di tanah, menunggu disentuh. Begitu Arya melangkah mendekat, tatapan mereka serempak tertuju kepadanya, tanda latihan akan segera dimulai. Suara ayahnya masih terngiang di telinga Arya. “Gasing bukan sekadar mainan, Arya. Gasing adalah jiwa leluhur kita. Setiap putaran membawa doa. Setiap dengung menyimpan cerita.” Arya mengerti makna pesan itu. Dia selalu menyimpan Garuda Terbang dengan baik dan membersihkannya setelah digunakan.
Ilham, teman mengaji Arya ikut mendekat. “Arya, ajari aku melempar yang benar. Gasingku tidak pernah menang.”
“Baik,” ujar Arya. Dia berdiri tegak di hadapan Ilham menunjukkan cara memegang gasing. Seperti yang diajarkan ayahnya, Arya memasang kuda-kuda yang kokoh dan sedikit menekuk lutut. Gasing bambu dengan luas lingkaran sekitar sepuluh sentimeter itu dipegangnya dengan mantap. Tali sepanjang hampir satu meter dililitkan rapat dari bagian bawah badan gasing hingga mendekati puncaknya. Panjang tali tersebut memberikan tenaga putar yang kuat sekaligus menjaga keseimbangannya. Dengan satu gerakan yang terlatih, Arya melemparkan gasing ke tanah sambil menarik ujung tali dengan cepat. Gasing itu melesat turun, menyentuh tanah, lalu berputar tegak dengan dengung nyaring yang terdengar merdu di telinga. Ilham memperhatikan setiap gerakan Arya tanpa berkedip. Semua itu terlihat tampak mudah, padahal untuk dapat melakukan hal itu Arya sudah berlatih bertahun-tahun.
Hampir setiap sore Arya berbagi ilmu yang diwariskan ayahnya dengan teman-temannya.
***
Suatu sore, seorang anak laki-laki dari Karangmojo berlari memasuki lapangan Kaligondang. Wajahnya basah berkeringat. Napasnya tersengal-sengal. Warga yang sedang berkumpul menoleh ke arahnya. Anak itu berhenti di tengah lapangan, lalu dengan berteriak, “Kaligondang! Karangmojo menantang kalian!” membawa kabar dari perkumpulan pemain gasing Karangmojo.
Kabar itu mengguncangkan lapangan Kaligondang. Anak-anak Kaligondang menghentikan permainan mereka. Mereka mengelilingi utusan Karangmojo.
“Kami akan mengadakan pertandingan gasing akbar. Karangmojo melawan Kaligondang. Minggu depan di lapangan tengah,” jelas utusan itu.
Seorang anak berbisik pada Arya. “Karangmojo terkenal tangguh. Pemain mereka berpengalaman. Gasing mereka terbaru.”
Arya merapatkan bibirnya. Dia tahu pertandingan itu bukan sekadar permainan, melainkan juga membawa nama baik desanya. Tidak lama kemudian, Lurah Mangun Martono datang dari jalan kecil di tepi lapangan. Tubuhnya masih tegap meski rambutnya mulai memutih. Dia mengenakan surjan lurik dan ikat kepala hitam. Anak-anak perlahan menyingkir memberi jalan. Lurah Mangun Martono berhenti di hadapan utusan Karangmojo. Wajahnya tenang saat menatap anak-anak yang berkumpul, lalu beralih kepada sang utusan. “Kami terima tantangan itu,” katanya. Kemudian, Lurah Mangun Martono melangkah setapak mendekat. “Kaligondang tidak pernah lari dari tantangan,” lanjutnya tegas.
Wibawa Lurah Mangun Martono tumbuh dari sikapnya yang adil dan keberaniannya menanggung akibat dari setiap pilihannya. Dia bukan pemimpin yang gemar bicara panjang. Ketika dia menerima tantangan dari Karangmojo, dia tahu bahwa itu bukan sekadar pertandingan gasing melainkan pernyataan bahwa Kaligondang pantang mundur.
Anak-anak menoleh bersamaan. Suara itu memotong kegelisahan yang hadir di lapangan. “Kalian tidak perlu gelisah,” kata Lurah Mangun Martono. “Tantangan yang datang akan kita hadapi bersama.” Suasana yang semula tegang perlahan mereda. Anak-anak memandang lurah mereka dengan penuh keyakinan.
Utusan Karangmojo tersenyum tipis. “Baiklah,” katanya. “Kami akan menunggu Kaligondang di gelanggang pertandingan. Semoga kalian datang dengan pemain terbaik.”
Wajah anak-anak Kaligondang memerah. Merasa tertantang.
Pertemuan desa diadakan malam itu juga. Warga berkumpul di balai desa. Lurah Mangun Martono berdiri di depan.
“Kaligondang tidak boleh kalah. Kita harus mempertahankan kehormatan desa,” kata Lurah Mangun Martono dengan nada sungguh-sungguh. Lurah Mangun Martono melangkah mendekati Arya. Dia meletakkan tangan kanannya di bahu anak itu, lalu berkata pelan, “Arya, kau tahu kenapa gasing selalu dijaga di Kaligondang?”
Arya mengangkat kepala perlahan, lalu menggeleng ragu. Lurah Mangun Martono tersenyum tipis sebelum kembali berbicara. “Leluhur desa ini pernah diajari seorang pengelana tua tentang cakra urip — roda kehidupan. Artinya, manusia harus seperti gasing. Tetap tegak meski dunia berputar keras.” Lurah berhenti sejenak. “Sejak saat itu, gasing bukan hanya permainan bagi Kaligondang. Dengungnya adalah kehormatan.” Arya menunduk diam.
“Kalau gasing jatuh karena kehilangan keseimbangan, desa ini juga bisa jatuh kalau anak mudanya kehilangan keberanian,” lanjut Lurah Mangun Martono. “Karena itu, besok kau bukan hanya bermain untuk menang. Kau membawa nama leluhur Kaligondang.” Ruangan mendadak hening.
Semua mata tertuju pada Arya. Dia duduk di pojok ruangan. Tubuhnya gemetar bukan karena dia penakut, melainkan karena beban besar yang tiba-tiba dipikul di pundaknya. Meski demikian, tekadnya tidak goyah. Seumur hidup, Arya hanya bermain gasing di tanah lapang bersama teman-temannya. Namun malam itu, untuk pertama kalinya dia merasa dirinya membawa harga diri seluruh desa.
“Arya adalah pemain terbaik kita. Dia harus mewakili Kaligondang,” sambung Lurah Mangun Martono dengan suara tegas.
Arya menarik napas panjang. Tanggung jawab itu terlalu besar untuknya. Kepalanya terasa berat. Dia merasa suasana hari-hari selanjutnya bakal mencekam. Arya berlatih keras setiap pagi. Dia melempar Garuda Terbang berulang kali. Kulit telapak tangannya mengelupas, memerah oleh gesekan tali yang ditarik tanpa henti. Bahunya menegang, punggungnya terasa kaku seolah dipaku. Namun, setiap kali gasing itu berputar tenang di tanah, Arya mengatupkan gigi dan kembali bersiap, menolak berhenti. Di sudut desa, bisik-bisik mulai terdengar. Warga membicarakan gasing Karangmojo yang lebih mutakhir. Mereka meragukan gasing bambu Kaligondang.
“Gasing plastik Karangmojo lebih ringan. Banyak warga penasaran seperti apa putarannya di gelanggang nanti,” kata seorang ibu di pasar.
“Aku pernah melihat warga Karangmojo bermain saat perayaan panen di desanya. Mereka memainkan gasing dengan sangat terampil,” timpal seorang petani tua sambil menggeleng pelan.
Pembicaraan warga itu akhirnya sampai ke telinga Arya. Dia berhenti melangkah. Bahunya merosot, dan pandangannya tertuju pada gasing di tangannya. Jarinya mengusap permukaan bambu yang mulai kusam. Dia ragu apakah putaran Garuda Terbang masih sekencang keyakinannya.
Suatu siang, Arya berlatih sendirian di lapangan. Dia mencoba melempar Garuda Terbang dengan berbagai cara. Meskipun putaran gasingnya sudah cukup baik, tetapi Arya merasa belum mencapai hasil yang diinginkannya.
“Kenapa aku belum bisa lebih baik?” gumamnya pelan sambil memandang gasing di tangan. “Maafkan aku,” bisiknya sambil menggenggam erat gasing itu. Bayangan pertandingan yang semakin dekat memenuhi pikirannya. Arya mengembuskan napas panjang dan duduk di tepi lapangan.
Ketegangan memuncak saat anak-anak Karangmojo datang berlatih di perbatasan desa. Mereka sengaja memamerkan gasing plastik mereka yang berkilau.
“Lihat gasing kami! Buatan terbaru! Kami membelinya di kota! Kalian masih pakai gasing terbuat dari bambu tua?” ejek Bayu, pemain terkuat Karangmojo.
“Gasing bambu kalian kuno! Berat! Lambat!” sambung temannya sambil tertawa.
Ejekan itu meninggalkan luka. Arya pulang dengan langkah pelan. Dia menatap gasing di tangannya dengan tajam. Genggamannya melemah, dan kepalanya menunduk sepanjang jalan pulang.
Malam itu, Arya duduk di dalam kamarnya. Dia menatap Garuda Terbang yang tergeletak di meja. Pikirannya kacau. Bayangan kekalahan menghantui benaknya.
Ayahnya mengetuk pintu. “Apa yang kamu ragukan, anakku?” tanya ayahnya lembut lalu duduk di samping Arya.
“Gasing mereka lebih canggih, Ayah. Gasing bambu kita ketinggalan zaman,” Arya menjawab dengan suara parau.
Ayahnya tersenyum lembut. Dia mengambil Garuda Terbang dari atas meja. Tangannya membelai permukaan bambu yang halus.
“Gasing ini punya jiwa, Arya. Plastik hanya punya bentuk. Bambu punya riwayat. Bambu punya cerita. Ingat pesanku: gasing menari mengikuti irama angin. Dia berputar mengikuti kehendakmu. Dia berhenti pada takdirnya.”
“Tapi bagaimana jika aku kalah, Ayah? Bagaimana jika aku mengecewakan orang-orang Kaligondang?” suara Arya bergetar.
Ayahnya menatap Arya dengan penuh kasih sayang. “Kemenangan sejati bukan tentang mengalahkan lawan. Kemenangan sejati adalah ketika kamu tetap memegang nilai-nilai yang benar, apa pun hasilnya.”
Arya menatap gasingnya. Dia ingin percaya kata-kata ayahnya. Namun, keraguan masih membelenggu hatinya.
***
Malam sebelum pertandingan, Arya tidur lebih awal. Bahunya pegal seharian berlatih, sementara pikirannya dipenuhi bayangan pertandingan. Dia tertidur dengan gasing di genggamannya. Dalam mimpinya, dia berada di lapangan kosong. Garuda Terbang berputar di samping gasing lain — gasing yang mengilap dan ringan milik Bayu dari Karangmojo. Tidak ada benturan. Keduanya berputar berdampingan, mengeluarkan dengung yang selaras menenangkan.
“Maafkan kami, Arya. Kami harus datang di mimpi Arya,” suara lembut itu berasal dari Garuda Terbang.
Arya tercekat. Mencoba mencerna, apakah ini sebuah kenyataan atau hanyalah mimpi semata.
“Arya, ini temanku, Petir Selatan. Dia milik Bayu dari Karangmojo.”
Gasing plastik berkilau itu berbicara. “Salam, Arya. Kami datang dengan pesan penting.”
“Pesan apa?” Arya menyahut penasaran.
“Kami telah bersepakat. Besok tidak ada yang menang. Tidak ada yang kalah. Kami tidak akan bertabrakan untuk menjatuhkan satu sama lain ,” jelas Garuda Terbang.
“Tapi pertandingan ini penting. Desa kami harus menang,” teriak Arya dengan suara bergetar. “Semua warga berharap Kaligondang bisa menjaga kehormatannya. Leluhur kami berbeda dengan leluhur Karangmojo. Sejak dahulu, kedua desa kerap beradu kemampuan dalam berbagai pertandingan rakyat. Kalau kami dianggap menyerah, orang-orang akan mengira leluhur kami sudah kehilangan harga dirinya.”
Petir Selatan berputar pelan. “Kami paham, Arya. Tapi kami punya tujuan lebih tinggi. Kami akan bernyanyi tentang keindahan. Kami akan menari merayakan kedamaian.”
“Kami akan menunjukkan bahwa persaingan bukan segalanya. Kerukunan lebih berharga. Kebersamaan lebih indah,” tambah Garuda Terbang dengan nada hangat.
Hati Arya tersentuh. Semua keraguan dan ketakutannya perlahan mencair.
“Lihatlah, Aku bambu kuno. Ia plastik masa kini. Kami berbeda. Tapi kami mampu bersahabat. Kami tidak perlu bertarung untuk membuktikan kehebatan,” Garuda Terbang berputar lembut mengitari Petir Selatan.
Arya mengangguk pelan. Dia mulai mengerti. “Kalian benar. Aku terlalu bersemangat pada kemenangan. Aku lupa makna pertandingan ini sebenarnya.”
Dua gasing itu berdengung merdu. Keselarasan suara mereka terdengar. Arya merasa tenang. Namun, sebagaimana kebanyakan mimpi-mimpi Arya lainnya, mimpi itu tidak diingatnya lagi begitu dia bangun dari tidurnya.
***
Satu pekan berlalu. Acara tahunan yang sudah jadi sebuah kebiasaan kini telah tiba waktunya. Cerahnya Minggu pagi ini turut mewakili perasaan warga yang sudah menanti. Pertandingan gasing itu berlangsung setelah panen padi usai dan menjadi sebuah perayaan yang dinanti. Biasanya, warga Kaligondang, Karangmojo, dan beberapa desa di sekitarnya akan berkumpul di lapangan tengah untuk menyaksikan pertandingan. Lapangan tengah dipenuhi warga dari dua desa. Mereka berdiri di sisi masing-masing, berdiri dengan membelakangi desanya. Suasana tegang. Bendera kedua desa berkibar. Warga Kaligondang memakai selendang hijau. Warga Karangmojo memakai selendang merah. Pemisahan itu terlihat jelas. Di tempat penonton, anak-anak berteriak menyemangati dua petarung yang hendak berlaga. Suara mereka bercampur menjadi hiruk-pikuk yang memekakkan telinga. Arya berdiri tenang sambil menggenggam gasingnya erat. Dia teringat pesan dalam mimpinya. Di hadapannya, Bayu berdiri memegang Petir Selatan. Kedua pemain saling menatap.
“Siap kalah, Arya?” Bayu menyeringai dengan percaya diri.
Arya tersenyum tenang. Dia mengingat pesan Garuda Terbang semalam. “Kita lihat saja nanti.”
Lurah Mangun Martono berdiri di tengah lapangan. Tangannya mengangkat peluit janur. Semua orang menahan napas. Peluit ditiup. Suaranya membelah udara. Pertandingan dimulai. Arya melempar Garuda Terbang dengan kuat. Talinya terlepas sempurna. Gasing bambu itu meluncur ke tempat tanding. Dengungnya merdu. Bayu melempar Petir Selatan dengan cara sempurna. Gasing plastik itu berputar cepat. Di seberang gelanggang, Lurah Wiro Dipo dari Karangmojo baru datang bersama beberapa pengawal desa. Dia berdiri sambil melipat tangan di dada, menatap gelanggang dengan senyum tipis penuh keyakinan.
Dua gasing berputar di tempat. Penonton menahan napas. Mereka menunggu tabrakan dahsyat yang akan menentukan pemenang. Namun, tabrakan itu tidak terjadi. Garuda Terbang dan Petir Selatan berputar berdampingan. Mereka mengeluarkan dengung merdu yang berpadu senada. Arya mencoba mengarahkan gasingnya menyerang. Dia menggerakkan tangannya. Garuda Terbang tidak menurut. Ia berputar menjauh dari Petir Selatan.
Bayu juga bingung. Dia mencoba berkali-kali mengarahkan Petir Selatan, tetapi gasing itu seperti memberontak. Ia tidak mau bertabrakan dengan Garuda Terbang.
“Apa yang terjadi?” bisik seseorang.
“Kenapa gasing itu tidak bertabrakan?” tanya yang lain dengan heran.
Dua gasing itu seperti tampak menari. Mereka berputar membentuk lingkaran sempurna. Dengung mereka berpadu menjadi perpaduan alunan indah yang tak pernah terdengar sebelumnya. Penonton terdiam. Mata mereka tertuju pada gasing. Tak seorang pun bersuara.
Garuda Terbang berputar ke kiri dengan gerakan anggun, seperti penari tayuban yang mengayunkan langkah pelan mengikuti irama gamelan. Petir Selatan mengikuti dari kanan dengan gerakan yang sama. Mereka bergerak senada seperti pasangan penari tayub yang saling menyambut lewat gerak selendang dan tatapan penuh hormat. Dengung mereka naik turun seperti nyanyian. Kadang lembut seperti bisikan angin. Kadang keras seperti sorak gembira. Kadang merdu seperti seruling bambu. Kadang lembut seperti bisikan angin. Kadang keras seperti sorak gembira.
Warga dari kedua desa yang berdiri di tepi gelanggang mulai tersenyum. Ketegangan perlahan mencair. Mereka menyadari bahwa persaudaraan lebih penting daripada kemenangan.
Seorang ibu dari Kaligondang melepas selendang hijaunya. Dia melambaikannya ke arah Karangmojo, dan disambut gerakan serupa oleh seorang kakek dari Karangmojo dengan melepas selendang merahnya. Dia tersenyum lebar. Air matanya mengalir. Pertandingan berubah menjadi pertunjukan seni. Arya dan Bayu, dua pemain terakhir dalam pertandingan, menunjukkan bahwa persahabatan lebih berharga daripada kemenangan. Setelah pertandingan usai, beberapa pemain lain ikut memutar gasing mereka. Gasing-gasing itu berputar bersama tanpa saling berbenturan, seakan menari dalam kerukunan.
Arya dan Bayu saling menatap. Mereka mengangguk saling menghormati dengan rasa kagum dan syukur. Lurah Mangun Martono berdiri. Wajahnya bersinar. Dia mengangkat tangan tinggi-tinggi. “Di pertandingan ini tidak ada yang kalah. Kita semua menang. Kita menang dalam persatuan. Kita menang dalam kebersamaan,” serunya dengan suara penuh haru.
Pertandingan usai dan tepuk tangan riuh membahana. Warga dua desa berbaur. Garis pemisah antara hijau untuk Garuda Terbang dan merah untuk Petir Selatan menghilang. Kedua lurah desa saling bersalaman dan berpelukan. Dua lurah masing-masing desa itu tertawa bersama, disambut sorak gembira para penonton di gelanggang pertandingan. Gasing-gasing berhenti berputar satu per satu. Namun, nyanyian mereka terus bergema di hati setiap orang. Nyanyian tentang perdamaian. Nyanyian tentang persatuan.
“Setiap gasing memiliki jiwa,” batin Arya mengingat pesan ayahnya. “Ia menari mengikuti irama angin. Ia berputar mengikuti kehendak. Ia berhenti pada takdir. Tapi berhenti bukan berarti mati. Ia lahir kembali sebagai nyanyian di jiwa.” Akhirnya Arya mengerti bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada siapa yang berputar paling cepat melainkan pada siapa yang tetap membawa nilai kehidupan di dalam putarannya. Sebab sesuatu yang lahir dari kehidupan akan selalu memiliki makna, sedangkan yang hanya mengejar kemenangan sering kali berakhir kosong tanpa jiwa.
*****